Pages

Jumat, 04 Januari 2019

Mr. Mac Resto Malang, Kualitas Bintang 5 yang Ramah Kantong



Beberapa tahun terakhir ini warga kota Malang dimanjakan oleh berbagai pilihan kuliner yang semakin beragam jenisnya.  Mulai makanan lokal yang dikemas dengan cara baru dan kreatif, hingga makanan internasional yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Ingin mendapatkan kedua jenis kuliner tersebut tanpa harus berpindah tempat?  Hayuk ke Mr. Mac Resto Malang.




Resto yang menyajikan masakan  Indonesia dan masakan barat ini didirikan oleh Bapak Machrus, yang tiga huruf awalnya kemudian diabadikan menjadi nama resto ini. Ditambah kata “Mister” di depannya untuk menggambarkan bahwa yang disajikan adalah makanan barat. 

Owner Mr. Mac Resto Malang


Ya, resto ini berawal dari gerai ayam goreng krispi -atau yang lebih dikenal dengan istilah fried chicken dari barat- di food court toko buku Siswa, Malang. 

Gerai ini dibuka pada tahun 1995 dan mengalami masa keemasan pada tahun 1998-2004, dimana dalam sehari bisa menghabiskan 70-110 ekor ayam. 

Ayam goreng krispi, menu andalan Mr. Mac Resto Malang


Pada tahun 2005 isu flu burung menerpa dan berimbas pada semua bisnis makanan berbasis unggas, termasuk gerai Mr. Mac. Untunglah kondisi ini tidak membuat Pak Mac (panggilan akrab founder-nya) berputus asa. 

Pada tahun 2006, beliau membuka resto di Kepanjen, tepatnya di Jl. Kawi 25. Disusul kemudian cabang Turen (tepatnya Jl. Panglima Sudirman) pada tahun 2008. Kedua resto ini tidak hanya menjual ayam goreng, tapi juga menu lain yang berkembang terus jenis dan rasanya.

Pada penghujung tahun 2018, dibukalah resto ketiga di kota Malang, yaitu di Jl. Cengger Ayam, depan Masjid Al Hikam agak ke selatan. Meskipun ayam goreng tetap menjadi menu andalan di semua restonya, tetapi kini Mr. Mac Resto Malang telah menyediakan puluhan jenis makanan dan minuman yang bisa dipilih sesuka hati. 

Untuk pengolahannya, dapur Mr. Mac Resto Malang digawangi oleh chef yang berpengalaman di hotel berbintang.  Dengan kualitas yang begitu terjaga, mungkin kita menyangka bahwa harga makanan dan minuman di Mr. Mac bakal semahal resto hotel berbintang juga, yang biasanya air mineral saja dijual berkali-kali lipat dari harga pasarnya? Hohoho, jangan tekecoh, Fernando. Lihat sendirilah betapa ramah kantongnya menu di Mr. Mac, yang kualitasnya sekelas bintang 5 ini.  

Tuh, ramah kantong banget kan?
    

Rice bowl-nya dagingnya besar-besar loh




Nasi gorengnya porsinya lumayan besar

Ini nih andalannya

Spesial iga

Sundae, best seller beverages-nya Mr. Mac Resto

Tamie, porsinya besar, cuma 15 ribu

Cwie mie yang khas Malang juga nggak ketinggalan

Bukan cuma menunya yang oke, suasananya cozy banget loh, cucok buat kumpul-kumpul teman, keluarga dan kolega. Mau sendirian juga asyik aja karena ada wifi-nya.

Teras luar lantai 2 Mr. Mac Resto Malang

Seru buat kumpul-kumpul

Salah satu sudut yang cozy

Instagramable banget dah


Tersedia proyektor LCD untuk yang mau bikin acara di sini

Mushollanya pun bersih

Tunggu apalagi? Cuzz dah ke Mr. Mac Resto Malang, di Jl. Cengger Ayam No. 30, Malang. Mager? Udah bisa gofood loh. Oiya bagi yang mau reservasi untuk acara apa aja, bisa langsung kontak 082141845113. Happy kongkowing temans!

Selasa, 20 November 2018

Taman KLCC, Oase di Tengah Hutan Beton Kuala Lumpur







Seperti lazimnya ibu kota negara berkembang di bagian manapun dunia ini, Kuala Lumpur disesaki oleh gedung-gedung menjulang dan pembangunan yang tak henti-hentinya. Suara mesin berputar, alat berat, paku bumi yang dihunjamkan dalam-dalam, kendaraan yang berlalu-lalang, menjadikan ketenangan seperti sebuah utopia bagi siapapun yang beraktivitas di dalamnya. Tak terkecuali wilayah padat di KLCC alias Kuala Lumpur City Center.

Bangunan paling ikonik di KLCC tentu saja adalah Menara Kembar Petronas (Petronas Twin Tower) yang telah menjadi semacam respresentasi Malaysia sejak berdiri pada tahun 1998. Meskipun bukan lagi menjadi gedung tertinggi di dunia setelah dikalahkan oleh Burj Khalifa (2010) dan Taipei 101 (2004), menara ini tetap menjadi primadona wisata di Malaysia dengan ribuan pengunjung yang bersedia membayar puluhan ringgit demi naik ke atas dan melintasi jembatan udara (skybridge) setiap hari aktifnya.  Itu masih belum termasuk mereka yang menghabiskan waktu di Suria KLCC, pusat perbelanjaan yang berada di lima lantai terbawah Menara Petronas, serta para pengunjung Petrosains yang masih berada dalam satu gedung. Tak heran jika gedung seluas 395.000 meter persegi itu terasa sangat padat terutama  pada jam kantor.

Melengkapi kepadatan menara kembar, masih ada Menara Carigali yang terhubung dengan sang menara ikonik,  juga Menara Exxon Mobil, Menara Maxis, Menara Prestige, Hotel Mandarin Oriental, Hotel Traders dan berbagai gedung lain yang memantapkan wilayah KLCC sebagai hutan beton yang seolah-olah menganaktirikan alam.

Untungnya, ibu tiri tak selalu sekejam ibu kota sehingga anak tiri pun bisa mendapatkan haknya.
Di sana, di belakang gedung kembar (yang masih) tertinggi di dunia, terhampar oase seluas 20 hektar, tempat jiwa-jiwa gersang pemburu uang dan belanjaan dapat mencari kesejukan.

KLCC Park atau Taman KLCC, adalah oase itu.




Terdiri dari danau buatan yang menyuguhkan atraksi air mancur menari dua kali dalam sehari, kolam renang untuk anak-anak, taman bermain dan banyak tempat duduk, taman ini juga dirancang untuk menarik burung-burung lokal dan migran dengan cara pemilihan jenis tumbuhan secara teliti, sehingga hasilnya terlihat dalam deretan 1900 pohon lokal  termasuk 66 spesies pohon palem, yang akan membawa benak kita keluar sejenak dari kebisingan kota.

Tempat istimewa ini tidak terlihat dari jalan utama Ampang Road. Kita harus masuk dulu ke Menara Petronas kemudian  keluar melalui pintu belakang, atau bisa pula melalui jalan di samping gedung tersebut, yang seringkali padat oleh kendaraan.


Tidak ada biaya yang harus dibayarkan untuk bisa menikmati keindahan Taman KLCC. Bahkan kolam renang anak-anaknya pun bebas biaya. Pengunjung hanya diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan keindahan. Tidak sulit, bukan? Karena itulah harapan sederhana dari Roberto Burle Marx (Brazil), perancang taman ini, yang berharap keberadaan taman ini membuat manusia lebih peka akan alam dan lingkungannya. Sudahkah kita?

(Tulisan ini dimuat di majalah DeQi edisi Oktober 2018)

Senin, 17 September 2018

Naik Busway dari Blok M ke BSD, Nyaris Kecopetan

Kalo hari sabtu beberapa minggu kemaren kalian liat foto, video ato status berseliweran di medsos tentang antrian di gedung Kemendikbud, Senayan, kuberitahu kau, teman, aku juga nyempil situ, berkeringat dan kelaparan, demi info dan ilmu cara dapet beasiswa yang tokcer. Tapi apa daya, meskipun udah antri setengah mampus, workshop dan forum udah penuh banget sama rangorang yang antri duluan, jadilah kite-kite yang ampe gosong dan kemripik antri di trotoar cuma kebagian area stand aja. Itupun waktunya dibatasi karena di luar yang antri masih banyak banget.

Trotoarnya lebih padat isinya daripada jalan raya



Ya sudahlah ya, demi perikemanusiaan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, keluarlah aku dari arena pertarungan setelah mendapatkan segebok brosur yang beberapa diantaranya cuma asal comot karena udah diusir-usir sama panitia.

Berangkat habis subuh, berharap bisa ikut semua acara sampe maghrib sesuai jadwal, ternyata jam 10 pagi aku sudah menggelandang di halaman kantor Kemendikbud, nggak tau mau ngapain. Mau ke perpus tapi kok akses masuknya udah diblokir sama antrian rangorang yang mau ikut workshop di lantai atas. Mo ke kantin aja kata panitia di sono juga padet. 

Sebenernya sodara, kantor Kemendikbud itu tinggal sepelemparan bakso ke GBK, pingin liat persiapan Asian Games yang digelar seminggu lagi, tapi lalu inget kalo GBK masih tertutup buat umum, jadilah bengong lagi mo ngapain. 

Akhirnya pemirsah, setelah bengong berdetik-detik, kulakukanlah kelakuan yang sama seperti orang gabut di manapun di dunia ini, yaitu...
...
...
...
...
...

Jeng-jengggg

Ke mal.

*tepokjidat*
(Gak kreatiff ooiiiii)
Biariinnnn. Kan cari inspirasi
(Alesannn)

Setelah menimbang-nimbang mo ke mal mana, kuputusakan buat ke Blok M Plaza aja sekalian nyariin titipan orang rumah.

Jam 10 pagi, mal baru buka, jadinya masih sepi banget. Menghindari laper mata lebih lanjut (itu nyarii titipan aja ujungnya tau sendirilah, yang dicari apa, yang dapet apa *tutupmukapakedaster*), setelah makan, sholat dan ini itu, aku memutuskan untuk pulang aja ke BSD buat nulis dan persiapan nonton bola (waktu itu Piala AFF U-16). Waktu cek aplikasi transportasi online, ternyata ongkos Blok M-BSD lumayan mahal juga, padahal duit udah kekuras buat belanja *tutupmukalagi*.

Alternatif lainnya naik komuter ato busway. Kalo komuter berarti harus ke stasiun dulu. Kalo naik busway, kata pegawai mal, tinggal nyebrang jalan, trus lewat taman depan Mal Blok M, sampe deh ke terminal Blok M. Ya udah lah, pilih yang deket aja, naik busway.

Bingung juga aku waktu nyampe di teminal Blok M. Ini terminal pintu masuknya mana, kok cuma jalur bus aja yang tersedia? *garuk-garukidung*

Aku amati ada orang-orang yang nunggu bus di jalur-jalur itu. Ya udah lah ya, ngikut aja mo masuk di jalur yang di papannya tertulis 'transjakarta'. Eh, untungnya di situ ada sebiji (emang cabe?) petugas Dishub. Dia nanya duluan aku mo ke mana. Keliatan banget tingkahku kayak orang bingung kali yak? Pindah-pindah jalur nggak jelas. 
Menurut bapak itu, kalo mo ke jalur busway harus masuk lewat jalur di sebelah bapak itu, tar ada pintu, masuk aja lewat situ. Okelah, aku pindah jalur.

Baru beberapa langkah di jalur yang baru (jalurnya cuma cukup buat lewat satu orang), tiba-tiba ada orang yang dengan kecepatan super (halah) mendekati aku dari belakang. Alhamdulillahnya ya pemirsah, posisiku membelakangi matahari. Jadi pas ada orang itu mendekat, bayangannya kan keliatan banget di depanku. Langsung deh aku lompat ke jalur bus (untung ya Allah, nggak ada bus lewat waktu itu, bisa kesamber akunya. Makasih ya Allah). Orang itu kayaknya nggak menduga kalo aku menyadari keberadaannya. Begitu tau aku lompat ke samping, dia langsung berhenti beberapa langkah di depanku. Aku yg masih jalan di jalur bus, segera memindahkan ransel ke depan. Pingin banget aku ledekin sebenernya, heh, mo nyopet ya? Untung segera nyadar kalo ini markasnya dia, gengnya pasti banyak. Kalo cuma digebukin sih masih tahan lah, masih bisa nendang sama mukul ini, tapi kalo diper***a gimana? Hancur Minah, Bang.

Ya udahlah cuma aku lirik orang itu, yang ternyata segera balik ke asalnya (kliatan banget kan kalo emang sasarannya aku? Begitu gak dapet, balik lagi deh dia. Dasar copet amatiran) dan aku juga segera balik ke jalur pejalan kaki trus jalan cepat ke depan sambil megangi ransel yang kugendong kayak bayi.

Sampe di pintu yang dimaksud oleh bapak Dishub tadi, aku langsung melongo karena ternyata itu pintu masuk turun ke basement. Tangganya panjang banget lagi. Dengan kondisiku yang kayak gini (baca: Lutut Nyeri, Kirain Penuaan Dini, Eh Ternyata Begini), harus turun tangga segitu panjang bisa jadi masalah lagi. Tapi aku punya pilihan apa? Masa harus balik lagi? Udah perjuangan banget nih nyampe ke situ. Yah, akhirnya, setelah beberapa detik pertimbangan (kalo kelamaan ntar dipepet copet lagi kan berabe), akhirnya aku nekat turun. Kaki dipikir belakangan aja lah.

Untung aja tangga sedang sepi, jadi aku bisa turun pelan-pelan, nggak kedorong-dorong orang. Begitu sampe di bawah, baru kliatan kalo terminal Blok M itu ada di bawah tanah sodara! Makanya kok di atas cuma ada jalur bus aja. Sebenernya pingin banget ngefoto kondisi terminal underground ini, tapi setelah diintai copet begitu, aku gak berani ambil HP dari dalam tas. Jalan aja cepet-cepetan, kuatir dipepet lagi.

Setelah top up saldo Flazz, aku naik tangga (lagi) ke jalur busway yang arah ke Harmoni. Ini hasil nanya ya sodara. Gak ada petunjuk yang jelas gimana caranya ke BSD. Sempat install aplikasi Movit atas saran seorang teman, tapi ternyata gak akurat juga petunjuknya. Lebih akurat jurus jadul: Nanya petugas.


Busway (sumber: google)


Gak nunggu lama, busway tujuan Harmoni dateng. Busway ini ternyata lewat gedung Kemendikbud sodara, hehehe, kepikiran sih buat turun dan masuk lagi, siapa tau masih bisa ikut workshop ato forum meskipun duduk di lantai, tapi pas liat jam ternyata udah sore banget, bisa kemalaman aku tar pulangnya. 

Blok M ke Harmoni makan waktu 35 menit naik moda transportasi ini. Di koridor Harmoni sekitar 10 menit nunggu busway selanjutnya yang jurusan Grogol 1. Ini juga hasil nanya ya pemirsah. Papan petunjuknya nggak sesuai banget. Kayaknya jalurnya berkembang terus tapi papannya tetep yang lama. 

Perjalanan dari Harmoni ke Grogol 1 sekitar 10 menit juga. Sampe di Grogol 1, jalan kaki dulu buat pindah ke koridor Grogol 2. Di situ ada pintu khusus untuk jurusan BSD. Di sini nunggunya 25 menit sendiri sodara. Ampun deh. 
Nyesel kenapa tadi nggak bawa minum. Rasanya cairan tubuhku menguap semua. Kalo nunggunya aja segitu lama, kebayang dong betapa banyaknya orang yang ikut ngantri? Yup, langsung penuh busnya, sodaraaa! Aku nggak kebagian tempat duduk. Berhubung tadinya perjalanannya singkat-singkat, 10 menitan, kupikir yang ini paling kurang lebih sama lah ya, 10-30 menit. Eh tibaknya satu jam pemirsahhh. SATU JAM! Segitu lama berdiri nempel tiang di belakang sopir tuh rasanya pingin nyopot kaki terus masukin tas deh.

Saking udah gak kuat berdiri, akhirnya aku turun di ITC BSD demi biar bisa segera duduk di gojek, padahal sebenernya bisa turun di Pasmod aka Pasar Modern yang lebih deket.

Jadi ternyata, busway Grogol-BSD itu feeder alias pengumpan aja. Dan feeder means dia jalan di jalan umum kalo udah lepas dari jalur busway. Jadinya ya tetep aja ikutan macetnya Jakarta. Makanya lama. Makanya haus. Makanya laper. Makanya kakiku keraaaammmmm!! Jekardah oh Jekardaahhh!



Kamis, 30 Agustus 2018

Lutut Nyeri, Kirain Penuaan Dini, Eh Ternyata Begini.. Nomor 5 Bikin Marah


Hihihi, pasti pada pingin nimpuk aku gara-gara bikin judul ala-ala klikbait ya?

Sini-sini yang mo nimpuk, timpuk aja tuh si Mpuz
*kaboorrr*

Jadi pemirsahh, ceritanya lebaran kemarin itu lututku tiba-tiba nyeri lagi. Jaman dulu kala sebenernya udah pernah nyeri kayak gini. Pas periksa ke dokter BPJS, dirujuk ke Internist alias spesialis penyakit dalam, cuma dikasih obat pereda nyeri. Nah lho, itu mah cuma kamuflase, penyebabnya gak dobati. Akhirnya atas saran sepupu yang dokter, aku ke rematolog, alias dokter spesialis rematologi. Ya ampun, berasa tuwir banget ya umur segini ke dokter rematik, serasa penuaan dini. *tutup muka pake koyo*

Setelah serangkaian tes lab yang menguras kantong (yang tentu saja nggak dicover BPJS), dokter bilang aku cuma rematik biasa dan obatnya adalah injeksi alias disuntik di lutut. Enggak sakit sih suntiknya, cuma kantongnya aja yang sakit, soalnya sekali suntik 250 ribu, dan harus beberapa kali suntik. *elus-elus dompet*

Nah, nyeri yang sekarang tuh rasanya nggak jauh beda dengan nyeri waktu itu, udah kebayang aja harus suntak-suntik lagi.

Selesai libur lebaran (which is klinik BPJS udah buka lagi), aku periksa ke dokter umum. Kali ini dokternya ngasih pilihan, mau ke spesialis penyakit dalam atau spesialis ortopedi. Aku pikir kalo ke penyakit dalam pasti ujungnya cuma dikasih obat lagi, jadi aku pilih ke ortopedi aja. 

Biar nggak jauh, aku pilih dirujuk ke RSI Unisma Dinoyo, Malang, aja. Ada 2 dokter ortopedi di sini. Kebetulan aku ke situ pas jadwalnya dr. Krisna.


Jadwal dr. Krisna
 Setelah diperiksa, menurut beliau, masalahnya bukan di sendi ataupun di tulang lututnya, tapi ada di otot penyangga lutut. Supaya bisa pulih, aku dirujuk ke rehabilitasi medik untuk fisioterapi.

Baiklah, besoknya aku antri di klinik rehabilitasi medik. Penanggungjawabnya dr. Eko yang sudah senior banget.


Jadwal Rehab Medik.

Dr. Eko ini sebenarnya nggak selalu stand by sesuai jam yang tertera (yang stand by asisten-asistennya), jadi beruntung banget waktu aku dateng pertama kali, beliaunya ada, jadi bisa konsultasi dulu sebelum terapi.

Pas aku baru duduk, dokternya (yang udah baca surat rujukan) langsung nanya, "Mbaknya mantan atlet ya?"
Aku langsung kaget, kok tahu sih? Waktu aku jawab iya, beliau bilang kondisi yang terjadi padaku sekarang ini biasa terjadi pada mantan atlet.  Jadi, otot yang biasa kencang dengan olahraga, kalo nggak digunakan untuk olahraga akan kendur. Dan di kasusku, yang kendur adalah otot paha, sehingga lutut tertekan, akibatnya nyeri. Cara mengatasinya adalah dengan olahraga yang  mengencangkan otot paha tetapi tidak membebani lutut. Yang disarankan adalah bersepeda 15 menit 3 kali sehari. Selain itu aku harus fisioterapi seminggu 3 kali (awalnya, lalu kebijakan BPJS berubah sehingga terapinya cuma 2x) selama 3 bulan.

Jadi ternyata pemirsa, ini tuh cuma gara-gara aku nggak olahraga selama sebulan (bulan puasa kemarin) trus dilanjut lebaran terlalu banyak aktivitas yang membebani kaki (kalian tahu lah, anjang sana-sini, jelong-jelong), akibatnya harus terapi selama 3 bulan. 
Satu bulan kelalaian dibayar tiga bulan. Wonderful.

Bukan cuma itu, ada larangan yang aku harus bisa tahan supaya minim tekanan di lutut dan terapinya berjalan baik, yaitu:

1. Posisi sholat harus duduk di kursi

Karena kondisiku ini mengharuskan lutut minim beban, jadi kalo sholat aku harus duduk di kursi. Ini kadang aku langgar karena kalo sedang di luar kan aku harus sholat di musholla/masjid yang belum tentu punya kursi, jadinya aku duduk bersimpuh. Ini cara yang relatif lebih mending sebenarnya daripada posisi sholat yang normal, tapi tetap saja, lututku sebenarnya belum kuat dipake duduk bersimpuh, jadinya kalo habis sholat bersimpuh biasanya langsung nyeri.

Oya, kalo suatu saat kalian liat orang sholat dengan posisi kayak gini padahal pas jalan dia tampak baik-baik aja, jangan suudzon dulu ya teman, bisa jadi kondisinya kayak aku gini. Bisa jalan, tapi banyak aturan.

2. Minim jalan kaki, perbanyak bersepeda.

Sebagai orang yang hobi jalan, ini mungkin bagian paling susah, nggak mungkin aku bersepeda terus-terusan kan? Gimanapun aku pasti bakal lebih banyak jalan. Nggak mungkin juga pake kursi roda ke mana-mana. Awal terapi sih aku masih cuek aja, tetep jalan ke mana-mana. Tapi setelah 1,5 bulan terapi tapi nggak banyak perbaikan, akhirnya aku mengalah, harus berusaha supaya nggak banyak jalan. Harus maksa diri ini, daripada nggak sembuh-sembuh. 

3. Berjalan di medan datar/kemiringan yang rendah

Walaupun kadang agak susah (ada tempat-tempat tertentu yang harus dicapai dengan tangga), aku berusaha untuk mencari medan yang derajat kemiringannya serendah mungkin. Misalnya di tempat perbelanjaan, aku memilih menggunakan jalur untuk troli alih-alih tangga (seandainya tidak ada lift atau eskalator tidak bekerja). 
Ini agak susah kalo aku harus meeting di kantor yang berlokasi di lantai 2. Kalo terpaksa banget begini, biasanya aku pake jurus ngesot. Aku bahkan punya rok khusus buat ngesot di tangga, hahaha...

4. Pake toilet duduk

Pesan dokter, aku nggak boleh jongkok. Sebegitu pentingnya poin ini sampe-sampe dokter menanyakan toilet rumahku duduk atau jongkok. Kalo jongkok harus direnovasi jadi toilet duduk. Nah lho. Untungnya udah toilet duduk. Cuma kalo lagi di luar agak sulit juga nyari toilet duduk. Kan toilet umum selain di mal jarang yang modelnya duduk. Jadinya kalo misal pas di luar trus kebelet pipis, aku ke mal demi buat pipis doang, hihihi...

5. Udah itu aja.

*kabor sambil ngesot*
*ditimpuk jamaah*

Nah lho, beneran kan no. 5 bikin marah?

*kaborr lageee*

(Pokoknya, jangan berhenti olahraga ya teman-temannnn, kalo nggak kepingin kayak aku gini *ngomong sambil kabor*)

Rabu, 22 Agustus 2018

Lembang, Next Destination Kalo ke Bandung

Bandung.

Entah udah berapa kali aku ke kota kembang ini, secara ortuku tinggal di situ.

Walaupun udah sering (banget), sayangnya kebanyakan kunjunganku ke kota ini adalah untuk urusan keluarga. Jalan-jalan? Boro-boro. Nggak ketinggalan kereta pulang aja udah syukur 😅.
Padahal, tau sendiri kan, Bandung itu punya segudang destinasi wisata.

Di kotanya aja, ada Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Museum Geologi, Saung Angklung Udjo, Bandung Science CenterUpside Down World, Taman Hutan Raya, Babakan Siliwangi, NuArt Sclupture Artdll yang belum sempat terjamah. Di Bandung tuh rasanya waktu habis di jalan karena macetnya. Karena itu, vacation goal kami yang berikutnya kalo ke Bandung adalah ke Bandung coret, hehehe...


Pilihannya sih antara Ciwidey atau Lembang. Dua-duanya sih udah pernah dikunjungi rame-rame sama keluarga, cuma gak bisa lama  karena (lagi-lagi) terbatas waktu. Harus mikir, baliknya ke Bandung kalo kesorean bakal macet banget. Dan emang kejadian, kena macet pas balik. Waktu ke Ciwidey balik pas ashar, nyampe Bandung maghrib. Waktu ke Lembang malah nyampe Bandung udah malem.


Nah, liburan berikutnya pinginnya lebih santai, nggak dikejar-kejar waktu, jadi bisa eksplor tempat wisata dengan maksimal. Bisa jalan sampe gempor, makan sampe bersih piringnya dan foto-foto sampe memory habis. Itu artinya harus nginep dong, ye kan? Kalo nggak nginep paling-paling seharian cuma muterin Floating Market mulu.


Ciwidey dan Lembang sama-sama destinasi yang oke. Karena lokasinya di dataran tinggi, hawanya sejuk, cocok banget untuk runaway sejenak dari keriweuhan di kota. Tapi berhubung bulan lalu barusan ke Ciwidey, pilihan untuk liburan selanjutnya jatuh ke Lembang aja.


Sebagai orang kekinian yang ogah ribet, kita berburu tempat menginap secara online sajah ya. Dan ternyata oh ternyata, setelah hunting, ada ratusan penginapan di Lembang yang keren-keren pemirsah. Selain hotel, ada villa-villa cantik yang dilengkapi perapian kayak di Eropah sanah. Pasti seru banget bisa ngumpul sekeluarga sambil minum teh di depan perapian. Gimana nggak mupeng coba?


Okeehh, selanjutnya mari kita bandingkan harga di antara berbagai web, mana di antaranya yang paling hemat. Untuk penginapan yang sama, buat apa bayar lebih mahal, ya kan sodara?


Dannn, setelah membuka banyak tab pembanding demi efisiensi APBR alias Anggaran Perencanaan dan Belanja Rumahtangga, akhirnya kudapatkan hatinya. Eh maksudku kudapatkan pilihan penginapan dengan harga terhemat di sini, tepatnya di Traveloka.


Selisihnya lumayan banyak lho. Penting banget ini buat penghematan bangsa dan negara. Pilihannya juga banyak banget. Bahkan ada penginapan yang jarang ada di website lain, eh ada di Traveloka, termasuk villa yang ada perapiannya itu. Buat flight customer, alias yang pesen tiket pesawat di Traveloka juga, biasanya ada tambahan diskon lagi. Dobel-dobel dah hematnya.


Baiklahhh, setelah kita pilah-pilih hotel keren di Lembang, mari kita booking



Tuh kan diskonnya mayan


Setelah pilih penginapan, tinggal masukkan data pemesan lalu pilih metode pembayaran. Selesai deh. Gampang kan?


Oya, yang paling aku suka di Traveloka tuh harganya udah nett. Gak ada harga atau biaya tersembunyi seperti yang kadang ada di beberapa web booking hotel lain. Kayaknya murah di display, tapi ketika dipesan, baru deh muncul pajak, biaya administrasi, dll. Jatuhnya mahal juga.



Harga yang muncul udah nett, nggak ada biaya tersembunyi. Jujur kacang ijo lah pokoknya.

Yuk, sapa aja kemaren yang bilang pingin jalan-jalan ke Banyuwangi setelah baca ini dan pingin menginap di sini, hotel keren yang harganya hemat banget, langsung aja cus ke sini.  Nggak cuma Banyuwangi sih, yang pingin ke mana aja di seluruh dunia, booking aja hotelnya via Traveloka. Dijamin lengkap, mulai hostel buat backpacker sampai hotel berkamar president suite dan villa eksklusif ada semua. 


Jadi, tunggu apa lagi? Sana gih, liburan 😄😄.


Kamis, 09 Agustus 2018

Hokben dan Sumpit Bertuah


Alkisah, di sebuah negeri, hiduplah seorang anak polos yang rajin menabung dan mencuci kaki sebelum tidur. Pada suatu hari, anak tersebut ditraktir makan ketoprak oleh sepupunya. Abang penjual ketoprak tampaknya sedang mencoba-coba menggabungkan makanan Betawi dengan makanan Jepang, jadilah sang ketoprak disajikan dengan sumpit. Si anak yang baru sekali-kalinya itu melihat sumpit, berjuang dengan segala cara supaya bisa makan ketoprak dengan benda tersebut. Ia memperlakukan sumpit seperti makan dengan sendok garpu. Walhasil, tak satupun isi ketoprak yang masuk ke mulutnya. Akhirnya ia menyerah dan meminta sendok kepada abang ketoprak yang senyum-senyum melihatnya berjibaku dengan sumpit. Belajar menggunakan sumpit gagal total.

Tak terasa, si anak beranjak dewasa. Satu ketika, teman-temannya mengajaknya hangout di sebuah gerai makanan Jepang bernama Hoka Hoka Bento. Melihat sumpit di baki saji, mendadak dia merasa seperti memutar ulang waktu. Gambaran saat-saat dia berusaha mengangkat makanan ke mulutnya tetapi makanan itu jatuh semua ke piring, saat dia berusaha mencungkil makanan dengan sumpit tetapi isinya berhamburan ke meja, berkelebatan dalam benaknya. Betapa malunya jika itu semua terulang kembali di usianya yang sudah berkepala 2. Ia akan jadi obyek tontonan satu gerai dan bukan tidak mungkin teman-temannya mendadak menjauh dan mengaku tidak mengenalnya. Mau ditaruh di mana mukanya?

Mengantisipasi itu semua, akhirnya dia memutuskan untuk mengunakan sendok alih-alih sumpit, demi menyelamatkan mukanya yang cuma selembar dan nggak ada gantinya itu.

Baru sesuap dua suap nasi masuk ke mulutnya (ia berniat makan Ebi Furai dengan sendok, tetapi percayalah teman, agak susah makan Ebi Furai pakai sendok plastik), temannya bertanya, "Kok nggak pakai sumpit?"

Menurutmu, ia harus menjawab apa? 
A. Mengaku dengan jujur kalau nggak bisa pakai sumpit.
B. Pura-pura sumpitnya patah.
C. Pura-pura pingsan.
....
....
Oke okee, aku tau kalian pada milih C, tapi ternyata, ia memilih...
Nggak jawab apa-apa pemirsah! 

Nyebelin nggak tuh? Udah pada semangat milih jugak!

Temen satunya malah dengan tega dan muka tak bersalah dengan cueknya nuduh, "Nggak bisa pakai sumpit ya?"

Sia-sialah perjuangannya menyelamatkan muka pada hari itu, karena mau nggak mau, ia terpaksa mengangguk pasrah dan bergumam seperti orang berkumur.

"Sini aku ajarin!" Mendadak terdengar suara semerdu malaikat.

Dipandangnya arah suara. Ia sudah membayangkan sepasang sayap dan cahaya putih berpendar-pendar di situ, tapi ternyata cuma ada temannya yang sedang mengangkat sumpit di depan mukanya.

"Pegang sumpitnya begini," katanya sambil menggerakkan 3 jari di ujung sumpit.

Kuambil sumpit yang masih berada dalam pembungkusnya, kusobek-sobek kertasnya, lalu segera mengikuti gerakan sang teman.

Loh, kok, jadi aku?

Eh, iya, emang aku sih. Hihihi...

Jadi pemirsah, memang akulah si culun yang baru bisa pakai sumpit ketika berumur 20an. Itu semua atas jasa seorang teman keturunan Tionghoa yang baik banget mau ngajarin aku pakai sumpit sampai aku bisa. Dia juga bercerita tradisi keluarganya dalam menggunakan sumpit, seperti misalnya bagaimana memposisikan sumpit saat kita jeda makan atau saat sudah selesai makan. Dan itu semua terjadi di Hoka Hoka Bento yang sekarang udah dipendekin logonya jadi Hokben aja. Jadi tiap kali ke Hokben tuh kayak yang turn back time gitu. This is the place I learned how to use chopsticks.

Jaman dulu kan masih jarang ada tempat makan makanan Jepang, atau yang pakai sumpit lah.  Jadi kayaknya kalo mau belajar pake sumpit ya ke Hokben. Dan ini mungkin bukan cuma terjadi sama aku. Pasti banyak orang lain yang mempunyai pengalaman serupa. Secara nggak langsung, Hokben itu punya ikatan emosional sama proses belajar kita. Aku sih secara khususnya, hihihi..

Dengan ikatan emosional yang terbangun secara nggak sengaja itu, makanya aku seneng banget pas tau kalo Hokben buka gerai baru di Jl. Soekarno Hatta, Malang, secara deket sama rumahku. Gerai ini adalah cabang pengganti MX Mall yang sekarang sedang direnovasi. Lokasinya ada di lantai bawahnya Dapur Kota.




Dan yang bikin lebih seru, sekarang ada menu baru yang sesuai sama selera manusia kekinian, yaitu Hot & Spicy Teriyaki.

Hot & spicy beef teriyaki. Keliatan kan cabenya? (Haduhh, mendadak terasa pedas)

Hot & spicy chicken teriyaki

Yang nggak suka pedes, tetep dong masih banyak pilihan..

Menu spesial

Pasti ada favorit kamu di sini

Atau di sini?

Kalo ini favorit dedek-dedek gemes

Ini mainan lucunya Kidzu Bento. Eit, orang dewasa boleh banget loh kalo mau koleksi. Biar terjaga jiwa mudnya. Ye kan, ye kan?


Btw, pada tau nggak kalo Hokben tuh sebenernya brand lokal, bukan impor dari Jepang? Baru tau? Sama, aku juga. Semua bahannya juga lokal. Nasinya yang enak banget itu awalnya kupikir beras Jepang, tapi setelah ditanyain, ternyata bukan, itu beras lokal. Nah lho, ternyata beras kita bisa seenak itu, masaknya gimana yah?

Dan yang paling bikin tenang tuh, Hokben udah dapet sertifikasi halal. Bahkan masuk kategori A, which mean proses produksinya udah dipercaya banget bakal menjaga kehalalan, sehingga selama 2 tahun tidak akan diperiksa. Tenang lah pokoknya kita makan di Hokben.

Pajang gede-gede ahh

Udah gih sana ke Hokben. Kalau pada sibuk, delivery order aja ke 1500-505. 
Biar gampang inget, kalo lapar = SOS >>> 1500-505.


Nggak ada lagi kan yang bikin kamu ragu makan di Hokben? 
Apa?
Minta traktir? 
Boleh, tar kutraktir sumpit. Okesip?
*dilempar ocha*

(Trus sumpit bertuahnya manaa?)
Lahh, kan bertuah banget tuh, bikin kenyang. 
*dilempar ocha segentong*
*kaborr ke Hokbennn* 

  
 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About