Pages

Sabtu, 11 Maret 2017

Lika-liku Mengurus Paspor di Malang

Hidup memang kadang mengejutkan ya?
Rencana mau travelling lokalan aja, eh tiba-tiba ketiban durian ditawari berangkat ke Bangkok. Siapa nggak syok, coba? Seperti mendadak dilamar sama gebetan. *halah* *ditimpukjombloers*

Jadiii, berbekal membaca blognya Mbak Zie di sini, aku apply paspor online. Awalnya susah sekali masuk ke web. Kabarnya memang kadang-kadang overload. Kalau kalian mengalami hal yang sama, coba terus aja, ganti-ganti browser. Jangan putus asa. Bayangin liburannya ntar, biar semangat. *angkatbesi*

Setelah percobaan yang kesekian, akhirnya usahaku berhasil juga dan pengajuanku bisa terproses sampai selesai. Reminder aja buat kalian yang mau proses, notifikasi yang masuk ke email jangan lupa dicetak ya, itu bukan sekedar pemberitahuan, tapi harus ditunjukkan nanti di Kantor Imigrasi.

Saranku sih, sesulit apapun apply paspor online (meskipun sampai harus ke warnet misalnya), tetap lalui proses ini karena apply online itu membuat kalian didahulukan di Kantor Imigrasi. Kenapa? Karena kalau apply offline, misalnya di tengah-tengah kalian berdiri mengantri kemudian jam pengambilan nomor berakhir, maka kalian harus pulang dan kembali lagi keesokan harinya untuk mengantri lagi. Mau? Kalau aku sih ogah. Mending duduk manis di depan komputer untuk ngurus online. Kalau sudah apply online, kalian akan tetap dapat nomor antrian meskipun jam pengambilan nomor sudah berakhir. Enak, kan? 

Tetapi, apply online bukan berarti kemudian bebas kendala lho. (Kayaknya yang namanya 'masalah' mah ikut aja sama kita ke mana-mana ya? Mungkin karena ada kata 'salah' di dalamnya kali ya? *maksa*). 
Di meja pemeriksaan dokumen, beda satu huruf antara KTP dan KK ternyata bisa menjadi masalah. Di KTP, namaku nggak ada 'D'nya sedangkan di dokumen lain (KK, ijazah, surat nikah) ada.

Mbak di meja pemeriksaan itu galak banget lagi. Dengan nada tinggi, aku disuruh ngurus KTP baru, dengan ejaan yang sama dengan dokumen lain. Aku bilang, waktu dulu KTP jadi, aku udah bilang ke petugas kecamatan tentang kekurangan satu huruf itu, tapi katanya nanti aja kalau waktunya bikin KTP lagi.
Eh, si mbak ini ngotot dan ngomong panjang lebar tentang daftar cekal dan lain sebagainya. Suaranya kenceng banget lagi. Setengah malu sih didenger orang seruangan yang lagi antri. Kayak kita mau ke Suriah aja diributin soal daftar cekal. 
Aku sebenarnya pingin protes, tapi rasanya udah nggak punya tenaga lagi buat balas ngotot, setelah segitu lamanya berdiri antri. Akhirnya, aku cuma pasang tampang melas dan bilang, "Mbak, ngurus KTP itu kan lama, padahal saya udah beli tiket buat minggu depan."
Kayaknya sih mbaknya ngerasa kasihan, soalnya dia lalu masuk ke dalam untuk nanya petugas yang lebih berwenang. Begitu balik, dia udah nggak segalak sebelumnya dan bilang kalau aku disuruh bikin surat pernyataan (pakai tulisan tangan) tentang kesalahan ejaan itu trus ditandatangani di atas materei. 

YES!!
Dengan semangat '45, aku beli materei di koperasi Kantor Imigrasi dan waktu tanya beli kertas di mana, eh sama masnya malah dikasih kertas gratis. 
Alhamdulillah. Kadang bahagia itu sesederhana selembar kertas gratisan ya? *lebay*

Oke then, lanjut masuk ke dalam untuk antri wawancara. Pas giliran masuk, isi wawancara ternyata cuma pertanyaan udah pernah ke luar negeri atau belum, trus bikin paspor mau ke mana dan tujuannya apa. Setelah itu diambil foto dan sidik jari aka biometrik.
Nah, di sini sidik jariku yang kebaca cuma jempol doang, sodara! Jari yang lain kagak kebaca!
Nah lho, ini jari gue terbuat dari apa sih? Jangan-jangan KW? *digamparmalaikat* (Hoooiii bikinnya susah tau) (Iye, iye, maap, becanda doang ini mah).

Alkisah, masing-masing jari diambil 10 kali percobaan. Kalau udah 10 kali masih gagal juga nggak kebaca, diikhlaskan kok. Kita nggak disuruh bikin jari baru. Tenang aja. Kata mbaknya, dia cuma harus bikin berita acara tentang tidak terbacanya sidik jari ini.
Baiklahhhhh... Urusan bikin paspor selesai dan 3 hari kemudian aku balik lagi buat ambil paspor yang udah jadi. 

Jeng jengg.. jadi juga. Cepet.

Yang mau bikin, mending segera bikin daripada biayanya tau-tau naik seperti STNK.
*kabooorrrrr*

 Selamat bikin paspor!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Haii, salam kenal. Silakan komentar di sini yaa.

 

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

About