Pages

Selasa, 20 November 2018

Taman KLCC, Oase di Tengah Hutan Beton Kuala Lumpur







Seperti lazimnya ibu kota negara berkembang di bagian manapun dunia ini, Kuala Lumpur disesaki oleh gedung-gedung menjulang dan pembangunan yang tak henti-hentinya. Suara mesin berputar, alat berat, paku bumi yang dihunjamkan dalam-dalam, kendaraan yang berlalu-lalang, menjadikan ketenangan seperti sebuah utopia bagi siapapun yang beraktivitas di dalamnya. Tak terkecuali wilayah padat di KLCC alias Kuala Lumpur City Center.

Bangunan paling ikonik di KLCC tentu saja adalah Menara Kembar Petronas (Petronas Twin Tower) yang telah menjadi semacam respresentasi Malaysia sejak berdiri pada tahun 1998. Meskipun bukan lagi menjadi gedung tertinggi di dunia setelah dikalahkan oleh Burj Khalifa (2010) dan Taipei 101 (2004), menara ini tetap menjadi primadona wisata di Malaysia dengan ribuan pengunjung yang bersedia membayar puluhan ringgit demi naik ke atas dan melintasi jembatan udara (skybridge) setiap hari aktifnya.  Itu masih belum termasuk mereka yang menghabiskan waktu di Suria KLCC, pusat perbelanjaan yang berada di lima lantai terbawah Menara Petronas, serta para pengunjung Petrosains yang masih berada dalam satu gedung. Tak heran jika gedung seluas 395.000 meter persegi itu terasa sangat padat terutama  pada jam kantor.

Melengkapi kepadatan menara kembar, masih ada Menara Carigali yang terhubung dengan sang menara ikonik,  juga Menara Exxon Mobil, Menara Maxis, Menara Prestige, Hotel Mandarin Oriental, Hotel Traders dan berbagai gedung lain yang memantapkan wilayah KLCC sebagai hutan beton yang seolah-olah menganaktirikan alam.

Untungnya, ibu tiri tak selalu sekejam ibu kota sehingga anak tiri pun bisa mendapatkan haknya.
Di sana, di belakang gedung kembar (yang masih) tertinggi di dunia, terhampar oase seluas 20 hektar, tempat jiwa-jiwa gersang pemburu uang dan belanjaan dapat mencari kesejukan.

KLCC Park atau Taman KLCC, adalah oase itu.




Terdiri dari danau buatan yang menyuguhkan atraksi air mancur menari dua kali dalam sehari, kolam renang untuk anak-anak, taman bermain dan banyak tempat duduk, taman ini juga dirancang untuk menarik burung-burung lokal dan migran dengan cara pemilihan jenis tumbuhan secara teliti, sehingga hasilnya terlihat dalam deretan 1900 pohon lokal  termasuk 66 spesies pohon palem, yang akan membawa benak kita keluar sejenak dari kebisingan kota.

Tempat istimewa ini tidak terlihat dari jalan utama Ampang Road. Kita harus masuk dulu ke Menara Petronas kemudian  keluar melalui pintu belakang, atau bisa pula melalui jalan di samping gedung tersebut, yang seringkali padat oleh kendaraan.


Tidak ada biaya yang harus dibayarkan untuk bisa menikmati keindahan Taman KLCC. Bahkan kolam renang anak-anaknya pun bebas biaya. Pengunjung hanya diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan keindahan. Tidak sulit, bukan? Karena itulah harapan sederhana dari Roberto Burle Marx (Brazil), perancang taman ini, yang berharap keberadaan taman ini membuat manusia lebih peka akan alam dan lingkungannya. Sudahkah kita?

(Tulisan ini dimuat di majalah DeQi edisi Oktober 2018)

42 komentar:

  1. Keren mbak Tika tulisannya dimuat di majalah. Selamat ya mbaak... Jadi pengen liburan juga nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Eni.. Samaa aku juga butuh liburan inih πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  2. Hmmm dimuat dimajalah .. Kebayang honornya dehh.. .Selamat ya mbaa... Mantul... Hehe

    BalasHapus
  3. Masyaalloh, Kereeeen
    Kapan ya aku bisa begitu?
    Ya menulisnya, ya jalan2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Mora mah udah keren, jalan2 sambil mendongeng, hehehe...

      Hapus
  4. Seneng ya bisa sampai ke tempat keren ini, pengiin euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk mbak, jadi kepingin nyemplung pokoknya πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  5. Pernah kesini..kereeen emang.. Jadi ingat blm kutulis hehe

    BalasHapus
  6. Baca ini jadi belajar nulis ala liputan di majalah. Keren mbaaaa, pingin deh kaya mba tika hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Novi lebih kerennn 😁😁

      Hapus
  7. Wuuihh... selamat, ya. Semoga Istiqamah untuk terus berbagi.

    BalasHapus
  8. Dari dulu pingin banget foto-foto di deket menara Petronas. Semoga kesampean.. amiin

    BalasHapus
  9. Pengen ke Malaysia, moga tahun 2019 aamiin

    BalasHapus
  10. Asyik banget tulisannya masuk majalah, udah lama ngga kirim-kirim aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Dedew mah udah produktif bikin buku, kece badaiii

      Hapus
  11. Malaysia oh malaysia pengen kukesana tapi jelajah indonIndo dulu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo cuma ke KL cukup pas wiken, muter ikut goKL aja 😁

      Hapus
  12. Barokallahu mbak, tulisnnya dimuat di majalah. Jd mupeng. Hihi, dulu waktu ke KLCC jg terpesona dg indahnya tamn sekitar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa fik barakallah, makasih mbak. Hayuk dikirim aja 😁

      Hapus
  13. Wih, tulisannya pernah dimuat di majalah. Keren, Mbak Tika. Aku belum pernah ke KLCC sih btw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Rindang juga keren penelitiannya. Kalo ke KL nginep di Ampang Road aja sebaiknya, jadi tinggal jalan kaki ke KLCC tar. Etapi meskipun nginep agak jauh juga bisa naik goKL ke situ kok

      Hapus
  14. Belum pernah ke KL. Baca tulisan ini jadi dapat gambaran dan infotmasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari Bengkulu bisa ke Batam dulu mbak, nyebrang naik feri ke Singapore, trus naik kereta ke Johor Bahru trus kereta lagi ke KL

      Hapus
  15. Insya Allah ke sana suatu hari nanti

    BalasHapus
  16. Selamat ya. Tulisannya menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih pak, ini bukan sindiran kan? Hihihi

      Hapus
  17. MasyaAllah, mbak Tika produktif ya sampe dimuat di DeQi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Ilham mah jauh lebih produktif😁😁

      Hapus
  18. Bisa masuk list deh, mau ajak anak2 main ke sana, sekarang suruh pada nabung dulu :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sipp Mbak Afra. Mayan ngirit transport di KL. Kalo harga makanan hampir sama dgn Jekardah

      Hapus
  19. Baeu ingat, saya belum nulis tentang Taman di KLCC ini. Kelupaan terus.

    BalasHapus
  20. Tulisan ini saya save, semoga suatu saat ke sana

    BalasHapus
  21. Wah keren, kasih tips biar tulisan di muat di majalah DeQi dung hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, coba nanya sama Pak Rafif deh 😁

      Hapus

Haii, salam kenal. Silakan komentar di sini yaa.

 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About