Pages

Jumat, 17 Mei 2019

Mal di Malang: Apakah Ramah Disabilitas?



Gak nyangka, ternyata nyeri lutut ini banyak hikmahnya. Dengan kondisi fisik yang terbatas (baca: Lutut Nyeri, Kirain Penuaan Dini, Eh Ternyata Begini), aku jadi menimbang-nimbang tiap kali mau jalan ke mana gitu. Apakah tempat itu cukup ramah untuk kondisiku? Apakah harus lewat tangga? Toiletnya gimana? Mushollanya gimana? Dan setelah beberapa minggu menjalaninya, aku jadi kepikir buat bikin daftar seberapa ramah tempat itu untuk penyandang disabilitas, khususnya leg disabled, siapa tahu ada teman yang membutuhkan. Selain itu, info ini bisa juga dimanfaatkan untuk lansia, ibu hamil dan siapa saja yang terbatas kemampuannya.

Kali ini aku bikin daftar mal-nya dulu, sebagai area publik yang paling banyak dikunjungi.


Mal yang lumayan ramah disabilitas ada dua, yaitu:


1. Malang Town Square (Matos)

Untuk aktivitas di kondisi normal (baca: bukan kondisi darurat), Matos menyediakan lift dan eskalator datar walaupun eskalatornya hanya menghubungan lantai dasar (lower ground alias LG) dengan lantai 1 (ground alias G). Letaknya di depan Gramedia. 



Gramedia Matos

Dengan fasilitas ini, para penyandang disabilitas bisa dengan leluasa berpindah lantai.


Eskalator datar di depan Gramedia
Lift Matos


Toiletnya lumayan luas dan ada 1 bilik yang lebih luas dibanding bilik yang lain, sehingga kursi roda bisa masuk.  
Mushollanya luas banget dan ada AC-nya, tapi nggak ada jalan khusus buat kursi roda ke tempat wudhu. 

Jika terjadi kondisi darurat sementara kalian ada di lantai 3/upper ground (UG) atau 4/rooftop (RF) yang hanya ada akses eskalator tangga berjenjang padahal lift tidak bisa digunakan, kalian bisa mengambil jalur tempat parkir mobil yang berada di belakang mal. Tempat parkir ini ada di semua lantai Matos, jadi dengan mengikuti jalur ini kalian akan sampai juga di open space luar gedung.



2. Mal Olympic Garden (MOG)


So far, ini mal paling besar dan paling ramah disabilitas. Selain dilengkapi dengan lift yang lumayan luas (walaupun tempatnya di ujung banget dan tersembunyi), mal ini juga dilengkapi dengan eskalator datar yang panjang, menghubungkan semua lantai mulai dari tempat parkir sampai lantai teratas. Sehingga jika terjadi keadaan darurat yang tidak memungkinkan menggunakan lift, para pengguna kursi roda masih bisa memanfaatkan eskalator ini untuk menuruni gedung. 

Nah, kalo untuk keadaan darurat saja fasilitasnya memadai, apalagi untuk kondisi normal, ye kan?

 
Eskalator datar di MOG (sumber: flickr)



Hanya saja toiletnya yang agak kurang memadai bagi penyandang disabilitas, karena sempit banget, sulit diakses oleh kursi roda. Kursi roda mungkin harus ditaruh di jalur masuk karena kalo masuk area toilet akan memblokir jalan. 
Jenis penyiramnya pake bidet yang memancarkan air dari bawah. Aku nggak tau ini cukup ramah bagi penyandang disabilitas atau enggak.



Selain 2 di atas, mal selebihnya tidak bisa dibilang ramah disabilitas karena aksesnya kurang memadai, tetapi ada yang dalam kondisi darurat mempunyai akses yang bisa digunakan, yaitu: 



1. Mal Dinoyo City (MDC)

Mal ini sebenarnya memiliki lift yang menghubungkan tempat parkir sepeda motor dengan lantai 2, lantai 3 (foodcourt dan Royal ATK) dan lantai 4 (Movimax, Happy Puppy dan musholla), tapi sayang sekali lift-nya sering tidak berfungsi. Entah apa maksudnya dengan memasang lift tetapi jarang difungsikan. Ini sangat menyulitkan pengunjung yang tujuannya ke lantai 4, karena dari lantai 3 ke lantai 4 ada tangga berjalan alias eskalator tetapi tangga turunnya hanya tangga manual, padahal ketinggiannya lumayan. 




Lift Mal Dinoyo City

Lift saat aktif

Lift tidak aktif (ini lebih sering)


Jalur yang bisa digunakan ketika terjadi kondisi darurat adalah melalui tempat parkir. Aku sendiri kalo terlanjur naik ke lantai 4 tetapi ndilalah ketika mau turun lift-nya mati, terpaksa turun melalui tempat parkir walaupun bukan dalam kondisi darurat. Yah, darurat buatku setidaknya. 


Tempat parkir lantai 3 Mal Dinoyo City yang sering juga digunakan untuk event. 


(sumber: beritajatim.com)


Aku pernah liat pengunjung mal pengguna kursi roda yang turun dari mobil di parkiran lantai 3, kebingungan untuk berpindah lantai karena yang berfungsi hanya eskalator, sedangkan lift-nya enggak. Nggak tau apa yang terjadi kemudian, apakah keluarganya meminta pihak mal untuk mengaktifkan lift, mengambil jalur melalui tempat parkir, atau pulang saja. Bisa jadi itu terakhir kalinya mereka berkunjung ke Mal Dinoyo karena dirasa menyulitkan penyandang disabilitas. 
Kalo sudah gitu, siapa yang rugi?

2. Malang Plaza


Ini mal jadul yang nggak punya lift dan eskalatornya cuma ke atas aja. Kalo turun harus lewat tangga manual. 

Tetapi sekarang tempat parkirnya udah dibangun sampai ke lantai atas, sehingga jika terjadi kondisi darurat, jalur parkir ini bisa digunakan untuk lewat. Lumayanlah, daripada nggak ada sama sekali.


Yang kondisinya berlawanan dengan kedua mal di atas adalah Sarinah. 

Pusat perbelanjaan ini memiliki lift yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 3 (Movimax). Dalam kondisi normal, fasilitas ini selalu bisa digunakan. Tetapi dalam kondisi darurat yang mengharuskan lift tidak diaktifkan, tidak ada jalur yang ramah bagi penyandang disabilitas karena jalur satu-satunya adalah tangga. 



Untuk mal yang lain, kurang lebih kondisinya seperti ini:

1. Dieng Plaza/HiTech Mall


Dieng hanya memiliki eskalator model tangga dan tangga manual di dalam gedungnya. Tidak ada eskalator datar apalagi lift, jadi mal ini hanya cocok untuk mereka yang tidak ada masalah fisik. 



Plaza Dieng (sumber:tripadvisor)


2. Plaza Araya

Fasilitas di mal ini sama dengan Dieng Plaza, yaitu eskalator tangga. Musholla ada di parkiran, di luar gedung. 



Plaza Araya (sumber: tripadvisor)


Ternyata lebih banyak mal yang nggak ramah disabilitas ya? Sedih.
Oya, satu catatan lagi: Di Malang aku belum pernah melihat mal yang menyediakan kursi roda. 

Aku baru nyadar ini ketika jalan di mal kota lain yang menyediakan kursi roda. 


Mengapa di Malang nggak ada yang terpikir fasilitas ini ya? Apa karena nggak ada yang minta? Atau pengunjung selalu membawa kursi rodanya sendiri? Gimana kalau ada kondisi darurat ya? 


Ini PR buat mal di Malang sepertinya. Gimana menurut kalian?


4 komentar:

  1. Di bulan puasa ini, Saya malah keidean untuk menuliskan mall yang ramah muslim dilihat dari musholanya. Banyak mal yang menempatkan mushola di basement yang jauh dari area bisnis. Ada juga yang nyempil jauh dari bangunan mall.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuu tulis mbak, penasaran juga jadinya

      Hapus
  2. Waahhh agak sulit nih kalau diminta mengomentari mall di Malang.
    Sebagai yang sering jadiin mall di Surabaya kek rumah weekend hehehe, sungguh sedih pas ke Malang dan mampir ke mall nya.

    Terakhir bulan lalu deh kalau gak salah ke Malang.

    Ke Transmart baru itu.
    Kan masih baru ya, dalam pikiran, bakal lebih bagus dan bersih.

    Ternyata ya gitu deh :D

    Terus, kami cari makan di mall sebelahnya, apa ya namanya itu?
    Bagus sih, tapi mungkin karena terlalu banyak yang jualan, jadinya sumpek, gak kids friendly rasanya.

    Dan makanannya gak beragam ya, mending makan di luar.

    semoga bisa berbenah lagi ya biar bisa menyediakan mal ramah disabilitas :)

    BalasHapus
  3. aku pernah ke malang plaza.. bener yaa masih jadul mall nya..
    mall di malang memang kurang bagus mba.. tapi tempat wisata nya bagus-bagus..

    BalasHapus

Haii, salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung. Silakan komentar di sini yaa.

 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About