Pages

Jumat, 21 Juni 2019

Terapi Alergi Bioresonansi, Mengapa Perlu Lanjut?


Lama gak apdet...

Ini penyakit banget buat narablog suka-suka sepertiku ini. Sempat post Mal di Malang: Apakah Ramah Disabilitas sih, tapi itu sebenarnya tulisan lama yang ngendon di draft karena nunggu foto-foto. 
Tapiiii kali ini gak apdetku ada sebabnya lho, bukan cuma alesan. 

Jadi, beberapa bulan terakhir ini kondisiku drop parah. Tensi rendah, hb rendah, leukosit naik turun, asma sering kambuh, vertigo, demam menggigil padahal suhu di bawah 37°C, dll, dsb. 
Aku cuma bisa keluar rumah untuk ke dokter. Bahkan belanja lebaranpun mostly kulakukan onlen.

Sementara itu, beberapa email dari pembaca blog ini juga menanyakan perkembangan terapi alergiku setelah mereka baca serial terapi bioresonansi (yang dimulai oleh Mencoba Terapi Bioresonansi untuk Alergi). Aku bingung juga mau balas gimana sementara aku sendiri berhenti terapi tiap kali udah merasa enakan. Maunya sih ngirit biaya, tapi kok kambuh-kambuhan.

Kondisi ini terus terang bikin aku bingung. 

Demamnya agak membingungkan karena hasil tes widalku emang positif tapi rendah aja. Sempat periksa ke internist, tapi malah dimarahi ketika bilang kalo tipus (padahal ini menurut dokter umum yang sebelumnya kutemui).  Kata dokter penyakit dalam tersebut, orang Indonesia secara umum widalnya emang segitu karena kondisi lingkungan. Bukan berarti itu tipus. 

Lah, yang beda ilmu kan mereka para dokter itu kok yang dimarahi pasien sih? Hadeh, enggak lagi deh aku balik ke dokter itu. Males banget.

Karena asmaku juga sering kambuh, aku dirujuk ke spesialis paru oleh faskes tingkat pertama. Aku ambil di RSI Unisma ke dr. Teguh. Beliau ini udah senior banget dan detil. Hasil labku diminta semua dan dijelaskan. Dari hasil lab itu, terlihat bahwa tubuhku memang sangat reaktif terhadap rangsangan dari luar alias hipersensitif. Bahasa sederhananya, tentaranya sangat protektif. Ibarat ada yang melempar kerikil aja, itu disangka bom dan seluruh pasukan akan waspada, tank dan senjata siap menyerang. 

Aku melongo. 

Puluhan tahun aku langganan dokter, baru kali ini aku ketemu dokter yang bisa menjelaskan kondisiku dengan bahasa yang sederhana sehingga akhirnya aku paham apa yang terjadi dengan tubuhku. Dengan begini aku jadi mengerti, kenapa beberapa kali dokter memberiku obat yang mengandung steroid, yang fungsinya supaya tubuh tidak terlalu reaktif.

Dokter berikutnya yang menjelaskan dengan panjang lebar tapi sederhana adalah dr. Lukman, spesialis penyakit mulut di RS Persada. Dokter ini santai banget dan mau menjelaskan dengan detil kondisi kita. 

Beliau menjelaskan bahwa jenis penyakit imunitas itu ada 3. 
Yang pertama adalah penyakit autoimun, di mana tubuh bingung mengenali teman atau lawan, semuanya diserang.
Yang kedua adalah hipersensitif, di mana tubuh kita lebay, terlalu protektif dan sensitif melindungi diri. 
Yang ketiga adalah tubuh kesulitan melindungi diri sendiri. Masuk di kategori ini adalah HIV/AIDS.
  
Sebelum ini, saking bingungnya aku dengan kondisiku, aku sempat menyangka kena penyakit autoimun. Setelah dijelaskan oleh kedua dokter tersebut, legalah aku sekarang karena tau kalo aku masuk kategori ke-2. Cuma lebay aja, nggak bingung dan nggak kehilangan kemampuan melindungi diri. 

Jadi sekarang tuh kalo flu berat, gatel-gatel, asma dan sembarang gejala muncul, aku ngerti kalo tubuhku sedang melindungi diri aja. Mungkin dari virus, mungkin dari bakteri, atau mungkin juga cuma biar nggak sakit hati #eaa.

Eh ya, sewaktu periksa ke dua dokter tersebut aku pake BPJS lho. Mereka bener-bener dokter-dokter yang penuh dedikasi, yang nggak pelit ilmu meskipun kepada pasien BPJS. 
Salut kan?

Dengan bekal penjelasan tersebut, aku paham kenapa alergiku kambuh-kambuhan. Ya memang karena terapinya belum tuntas. Dari 54 jenis alergen yang tubuhku resisten, mungkin baru beberapa aja yang bisa diterima oleh tubuh. Itulah mengapa tubuhku masih juga reaktif terhadap banyak zat dan kondisi. Kalo mau bener-bener sembuh, aku harus mulai mengatur diri. 

Dengan pasukan yang overprotektif, memperbaiki daya tahan tubuh adalah prioritas pertama. Ibaratnya, daya tahan ini seperti benteng, yang kalo dibangun dengan baik, jika suatu ketika ada serangan, pasukan nggak perlu siaga dengan the whole army karena ada benteng yang bisa diandalkan lebih dulu.

Nah karena seperti membangun benteng, memperbaiki daya tahan ini butuh komitmen, harus konsisten step by step. Untuk ini, aku memutuskan pake jasa personal trainer di gym supaya latihanku jelas dan terpantau. Selama ini kan aku olahraga sendiri yang nggak jelas aturan dan ukurannya, suka-suka aja, jadinya hasilnya juga nggak jelas, wkwkwk.

Yang kedua, aku harus mulai melanjutkan lagi terapi bioresonansi karena dengan gelombang yang sama (sebagaimana yang kuulas dalam Mencoba Terapi Bioresonansi), tubuh tidak akan lagi menganggap 'kerikil-kerikil' sebagai ancaman. 
Kali ini aku harus bener-bener konsisten, walaupun sudah enakan, tetep harus lanjut sampai tuntas.

Aku memilih terapi lanjutan di Persada Hospital (bukan lagi di RSIA), karena di sana dokter dan asistennya perempuan sehingga lebih nyaman bagiku. Pun dokternya nggak harus hadir karena ada asisten khusus yang menangani. Kalo di RSIA kan kalo dokternya sibuk atau ke luar kota, terapinya libur juga. 

Alat terapi yang bikin rileks

Di Persada namanya biofisika. Biaya nggak jauh beda dengan RSIA. 


Baiklahh, mari kita lanjutkan proses ini. Doakan kali ini aku istiqomah ya manteman, dimudahkan rejeki juga untuk lanjut terapi. Amin..

Jumat, 17 Mei 2019

Mal di Malang: Apakah Ramah Disabilitas?



Gak nyangka, ternyata nyeri lutut ini banyak hikmahnya. Dengan kondisi fisik yang terbatas (baca: Lutut Nyeri, Kirain Penuaan Dini, Eh Ternyata Begini), aku jadi menimbang-nimbang tiap kali mau jalan ke mana gitu. Apakah tempat itu cukup ramah untuk kondisiku? Apakah harus lewat tangga? Toiletnya gimana? Mushollanya gimana? Dan setelah beberapa minggu menjalaninya, aku jadi kepikir buat bikin daftar seberapa ramah tempat itu untuk penyandang disabilitas, khususnya leg disabled, siapa tahu ada teman yang membutuhkan. Selain itu, info ini bisa juga dimanfaatkan untuk lansia, ibu hamil dan siapa saja yang terbatas kemampuannya.

Kali ini aku bikin daftar mal-nya dulu, sebagai area publik yang paling banyak dikunjungi.


Mal yang lumayan ramah disabilitas ada dua, yaitu:


1. Malang Town Square (Matos)

Untuk aktivitas di kondisi normal (baca: bukan kondisi darurat), Matos menyediakan lift dan eskalator datar walaupun eskalatornya hanya menghubungan lantai dasar (lower ground alias LG) dengan lantai 1 (ground alias G). Letaknya di depan Gramedia. 



Gramedia Matos

Dengan fasilitas ini, para penyandang disabilitas bisa dengan leluasa berpindah lantai.


Eskalator datar di depan Gramedia
Lift Matos


Toiletnya lumayan luas dan ada 1 bilik yang lebih luas dibanding bilik yang lain, sehingga kursi roda bisa masuk.  
Mushollanya luas banget dan ada AC-nya, tapi nggak ada jalan khusus buat kursi roda ke tempat wudhu. 

Jika terjadi kondisi darurat sementara kalian ada di lantai 3/upper ground (UG) atau 4/rooftop (RF) yang hanya ada akses eskalator tangga berjenjang padahal lift tidak bisa digunakan, kalian bisa mengambil jalur tempat parkir mobil yang berada di belakang mal. Tempat parkir ini ada di semua lantai Matos, jadi dengan mengikuti jalur ini kalian akan sampai juga di open space luar gedung.



2. Mal Olympic Garden (MOG)


So far, ini mal paling besar dan paling ramah disabilitas. Selain dilengkapi dengan lift yang lumayan luas (walaupun tempatnya di ujung banget dan tersembunyi), mal ini juga dilengkapi dengan eskalator datar yang panjang, menghubungkan semua lantai mulai dari tempat parkir sampai lantai teratas. Sehingga jika terjadi keadaan darurat yang tidak memungkinkan menggunakan lift, para pengguna kursi roda masih bisa memanfaatkan eskalator ini untuk menuruni gedung. 

Nah, kalo untuk keadaan darurat saja fasilitasnya memadai, apalagi untuk kondisi normal, ye kan?

 
Eskalator datar di MOG (sumber: flickr)



Hanya saja toiletnya yang agak kurang memadai bagi penyandang disabilitas, karena sempit banget, sulit diakses oleh kursi roda. Kursi roda mungkin harus ditaruh di jalur masuk karena kalo masuk area toilet akan memblokir jalan. 
Jenis penyiramnya pake bidet yang memancarkan air dari bawah. Aku nggak tau ini cukup ramah bagi penyandang disabilitas atau enggak.



Selain 2 di atas, mal selebihnya tidak bisa dibilang ramah disabilitas karena aksesnya kurang memadai, tetapi ada yang dalam kondisi darurat mempunyai akses yang bisa digunakan, yaitu: 



1. Mal Dinoyo City (MDC)

Mal ini sebenarnya memiliki lift yang menghubungkan tempat parkir sepeda motor dengan lantai 2, lantai 3 (foodcourt dan Royal ATK) dan lantai 4 (Movimax, Happy Puppy dan musholla), tapi sayang sekali lift-nya sering tidak berfungsi. Entah apa maksudnya dengan memasang lift tetapi jarang difungsikan. Ini sangat menyulitkan pengunjung yang tujuannya ke lantai 4, karena dari lantai 3 ke lantai 4 ada tangga berjalan alias eskalator tetapi tangga turunnya hanya tangga manual, padahal ketinggiannya lumayan. 




Lift Mal Dinoyo City

Lift saat aktif

Lift tidak aktif (ini lebih sering)


Jalur yang bisa digunakan ketika terjadi kondisi darurat adalah melalui tempat parkir. Aku sendiri kalo terlanjur naik ke lantai 4 tetapi ndilalah ketika mau turun lift-nya mati, terpaksa turun melalui tempat parkir walaupun bukan dalam kondisi darurat. Yah, darurat buatku setidaknya. 



Tempat parkir lantai 3 Mal Dinoyo City yang sering juga digunakan untuk event.
(sumber: beritajatim.com)


Aku pernah liat pengunjung mal pengguna kursi roda yang turun dari mobil di parkiran lantai 3, kebingungan untuk berpindah lantai karena yang berfungsi hanya eskalator, sedangkan lift-nya enggak. Nggak tau apa yang terjadi kemudian, apakah keluarganya meminta pihak mal untuk mengaktifkan lift, mengambil jalur melalui tempat parkir, atau pulang saja. Bisa jadi itu terakhir kalinya mereka berkunjung ke Mal Dinoyo karena dirasa menyulitkan penyandang disabilitas. 
Kalo sudah gitu, siapa yang rugi?

2. Malang Plaza


Ini mal jadul yang nggak punya lift dan eskalatornya cuma ke atas aja. Kalo turun harus lewat tangga manual. 

Tetapi sekarang tempat parkirnya udah dibangun sampai ke lantai atas, sehingga jika terjadi kondisi darurat, jalur parkir ini bisa digunakan untuk lewat. Lumayanlah, daripada nggak ada sama sekali.


Yang kondisinya berlawanan dengan kedua mal di atas adalah Sarinah. 

Pusat perbelanjaan ini memiliki lift yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 3 (Movimax). Dalam kondisi normal, fasilitas ini selalu bisa digunakan. Tetapi dalam kondisi darurat yang mengharuskan lift tidak diaktifkan, tidak ada jalur yang ramah bagi penyandang disabilitas karena jalur satu-satunya adalah tangga. 



Untuk mal yang lain, kurang lebih kondisinya seperti ini:

1. Dieng Plaza/Cyber Mall


Dieng hanya memiliki eskalator model tangga dan tangga manual di dalam gedungnya. Tidak ada eskalator datar apalagi lift, jadi mal ini hanya cocok untuk mereka yang tidak ada masalah fisik. 



Plaza Dieng (sumber:tripadvisor)


2. Plaza Araya

Fasilitas di mal ini sama dengan Dieng Plaza, yaitu eskalator tangga. Musholla ada di parkiran, di luar gedung. 



Plaza Araya (sumber: tripadvisor)


Ternyata lebih banyak mal yang nggak ramah disabilitas ya? Sedih.
Oya, satu catatan lagi: Di Malang aku belum pernah melihat mal yang menyediakan kursi roda. 

Aku baru nyadar ini ketika jalan di mal kota lain yang menyediakan kursi roda. 


Mengapa di Malang nggak ada yang terpikir fasilitas ini ya? Apa karena nggak ada yang minta? Atau pengunjung selalu membawa kursi rodanya sendiri? Gimana kalau ada kondisi darurat ya? 


Ini PR buat mal di Malang sepertinya. Gimana menurut kalian?


Jumat, 25 Januari 2019

Kuatir Cuaca Ekstrim? Ke Jakarta Aquarium Aja



Sebagai pecinta laut, informasi dari BMKG bahwa pada tahun 2019 kita harus waspada terhadap cuaca ekstrim di perairan seluruh Indonesia, sungguh membuat aku patah hati. 

Gimana nggak patah hati coba, masih belum hilang dari ingatan kita akan terjangan tsunami yang menerjang Palu, Lampung, pantai selatan Jawa Barat dan Banten, yang menewaskan ratusan orang termasuk anggota band Seventeen hingga menyisakan Ivan saja. Kerabatku turut menjadi korban luka-luka pada saat itu. Dia dan teman-temannya terseret gelombang hingga ke tengah laut. Untung saja Allah masih melindungi, hingga mereka bisa berenang kembali ke daratan, walaupun ada temannya yang tidak selamat.

Info BMKG hari ini, tetap waspada


Hal itu tentu saja membuatku harus berpikir ulang, karena tahun ini aku udah bikin planning jalan-jalan ke beberapa lokasi wisata laut seperti Labuan Bajo, Wakatobi, pantai selatan Jawa Timur dan pantai-pantai di Bali. Bahkan untuk menginap di hotel yang berada di tepi laut pun aku berpikir seribu kali. Padahal hotel-hotel eksotis seperti yang misalnya yang pernah aku ceritakan di sini, banyak yang letaknya di tepi laut. Dengan cuaca seperti ini, gimana ya kabarnya hotel-hotel itu?

Alih-alih membatalkan semua rencana, demi keberlangsungan kebahagiaan sekaligus keselamatan jiwa, raga dan keluarga, kucoba cari alternatif pengganti tujuan wisata, yang sekiranya aman dan tetap bisa memenuhi keinginan untuk melihat laut. Nyebur kalau perlu. Penting banget ini mah, nafsu buat nyebur biar bisa lihat ikan dari dekat harus terpenuhi.

Pas lagi gugling sana-sini, aku tiba-tiba teringat sama yang namanya Jakarta Aquarium. Tahun kemarin waktu lebaran di Jakarta sih sebenarnya kita udah kepingin banget ke sana, udah diplanning juga, tapi ternyata waktu habis buat anjangsana keluarga, pas balik ke hotel udah tepar semua, paling jalan ke mal yang deket aja demi menghemat tenaga. Nah, kebetulan kan, bisa sekalian menebus putri yang tertukar. Eh maksudnya planning yang tertunda.

Jakarta Aquarium ini terletak di dalam Mal Neo SOHO, Petamburan, Jakarta Barat. Ada di tengah kota ya, masih jauh dari laut, jadi insya Allah aman deh dari tsunami.

Dari hasil cari info, bukan hanya sekedar lihat ikan lewat (seperti yang biasa kulakukan kalau nyebur laut), Jakarta Aquarium ternyata menawarkan banyak atraksi.

Gemezz nggak sih?

Ikan lewat 😂😂

Karangnya bagus-bagus. Nggak keinjek-injek seperti di laut dangkal sih ya?


Ada touch pool, tempat kita bisa memegang hewan-hewan laut seperti siput, bintang laut, bahkan hiu mungil. Kita juga bisa melihat aktifitas berang-berang, hewan air yang jago membuat bendungan itu. Kabarnya, mereka suka tidur sambil berpegangan tangan lho! Nah lho, pada kesindir nggak tuh? Kita mah sukanya tidur sambil berpegangan sama guling ya? Kalah deh sama berang-berang. *tepokjidat*

Selain hewan-hewan yang bisa dipegang di kolam kecil, di aquarium raksasa kita bisa menyaksikan juga ikan kerapu seberat 300 kg dan ikan hiu perawat sepanjang 3 meter! Panjang banget ya Allah, itu kalau masuk kamarku langsung penuh sesak deh.

Hiuuuuu

Kerapu raksas


Aku juga penasaran banget sama ubur-ubur yang tentakelnya panjang banget. Nggak kebayang kalau ketemu ubur-ubur macam itu di lautan, secara ketemu rombongan yang kecil-kecil seperti yang aku ceritakan di sini aja aku nggak berani nyebur karena takut disengat. Meriang bo'!

Panjang banget tentakelnyaa


Yang paling ditunggu-tunggu tentu saja adalah operet Pearl of the South Sea, sebuah pertunjukan yang mengisahkan kasih sayang seorang raja terhadap putri kesayangannya. Kisah ini diadaptasi dari cerita rakyat sebuah kerajaan di bagian selatan pulau Jawa, disajikan spektakuler dengan perpaduan antara aksi panggung, trik ilusi dan tarian di bawah air. Saran dari sepupuku sih sebaiknya datang pagi-pagi, soalnya dia ketinggalan pertunjukan keren ini gara-gara berangkat kesiangan. Rugi banget kan ya?

Dancing mermaid

Cast operet Pearl of the South Sea


Yang jelas, selain berangkat pagi-pagi, kami harus udah pegang tiket masuk Jakarta Aquarium sebelumnya. Selain biar nggak capek ngantri di loket, lebih murah pula harganya loh. 
Bayangkan, tiket weekday reguler aja tuh, cuma dibandrol 141.000 (dewasa) dan 106.250 (anak-anak), padahal harga aslinya 150.000 sama 125.000. Lumayan banget kan diskonnya?
Kalau mau beli yang premium (weekday), kita cuma perlu bayar 186.000 (dewasa) dan 132.000 (anak-anak) dari harga normal 200.000 dan 150.000.

Bedanya apa dong regular sama premium?

Kalau beli yang premium, kita bisa masuk teater 5D, yaitu sebuah ruangan yang dikelilingi aquarium, jadi berasa kita sedang ada di dalam kapal selam.

Teater 5D


Trus tiket yang aku incer-incer nih, aqua trek, yaitu masuk ke dalam aquarium dengan helm oksigen dan main-main dengan ikan yang berseliweran di situ, cuma seharga 511.500, padahal harga aslinya 550.000. Hemat banget kaann? Selisihnya bisa buat ngopi di malnya, hihihi...


Aqua trek

Jakarta Aquarium, here we come!!

   
 
Lorong di Jakarta Aquarium.

Cucunya Aragog hidup di laut?


 *gambar hasil nyomot dari Traveloka



Kamis, 24 Januari 2019

Blog Diplagiat, Bangga? Yang Benar Saja!



Gara-gara kompetisi yang digelar blogger kondang Mas Nodi Harahap nih, aku jadi berasa naik mesin waktu, memutar 13 tahun ke belakang, ke awal-awal aku bikin blog di tahun 2006.

Aku kasih tahu ya teman, tahun segitu itu, belum ada aplikasi obrolan gratis di gawai macam WA dan Line, jadi kalau mau mengobrol, kita pakai aplikasi obrolan berbasis surel, yaitu YM alias Yahoo Messenger, yang sekarang entah masih ada entah tidak.

Kalau ingin ketemu komunitas yang punya perhatian yang sama, kita pakai milis alias mailing list, yang masuk ke surel, jadi kalau tidak tiap hari kita rajin menghapus puluhan bahkan ratusan surel yang masuk (yang kadang cuma berisi, “Aku setuju”, “Ini bagus”, “Aku ikut”), dalam beberapa minggu saja kotak masukmu akan penuh berisi surel tak penting.

Salah satu komunitas yang aku ikuti melalui milis adalah Sekolah Rumah dan Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif), tempat berkumpulnya para praktisi homeschooling alias sekolah rumah, di mana aku mencari inspirasi cara mendidik anakku yang saat itu masih balita.

Komunitas itu berisi orangtua-orangtua hebat yang selain sangat kreatif dalam mendidik anak, mereka juga suka menulis, yang mayoritas dituangkan dalam bentuk blog. Mulailah aku ketularan membuat blog juga. Waktu itu aku pakai blog berbasis multiply dengan judul Catatan Homeschooling
Beralamat di mustikadh.multiply.com, sesuai judulnya, blog ini berisi hal seputar pendidikan di rumah. Sayang sekali multiply kini sudah almarhum, jadi jangan klik tautan itu ya teman, percuma, sudah tidak ada lagi, hehehe






Suatu hari, seorang teman merekomendasikan buku Rumahku Sekolahku. Dia bilang buku itu bagus untuk praktisi sekolah rumah. 

Baiklah, tanpa berpikir panjang, kubeli buku itu di Gramedia. 

Ketika mulai membacanya, aku kaget banget. Buku itu berisi tulisanku di blog. Ada tulisan orang lain juga, yang aku merasa yakin pernah membacanya. 

Memanfaatkan mesin pencari, aku mulai mencari padanan tiap halaman buku itu di internet. 

Dapat! 

Seluruh isi buku tersebut ternyata adalah hasil plagiat dari blog beberapa anggota milis sekolah rumah. Total jenderal plagiat, tidak ada satu kalimat pun yang dimodifikasi. Plagiatornya bahkan tak mau susah-susah merubah kalimat. 

Kucoba menghubungi penerbitnya, menunjukkan bukti-bukti dan bernegosiasi, apakah mungkin nama penulisnya diganti nama-nama kami penulis aslinya. Mereka bilang tidak bisa, karena buku terlanjur didistribusikan. Buku juga tidak bisa ditarik lagi. Mereka hanya bisa bertindak sebatas memasukkan plagiatornya ke dalam daftar hitam. Apakah royalti bisa dialihkan ke kami? Tidak. 

Aku bahas masalah ini di milis. Ketika menemui jalan buntu dengan penerbit, beberapa teman menyarankan membawa masalah ini ke ranah hukum, bahkan ada yang bersedia mendampingi sebagai pengacara. Tapi ternyata teman-teman yang lain, para pemilik tulisan, memilih untuk tidak mengambil langkah hukum apapun, toh niat mereka dari awal memang supaya sekolah rumah bisa dipahami semua orang, jadi kalau jadi buku dan dibaca banyak orang, itu bagus. Hitung-hitung beramal lewat literasi.

Walaupun kecewa, sebenarnya aku tidak kaget juga. Sejak kenal mereka, aku tahu kalau mereka memang berhati peri. Cuma aku saja nih yang masih suka menuruti bisikan setan durjana, susah banget untuk bisa menerima. Sampai-sampai waktu seorang teman menenangkanku dengan bilang, “Harusnya kamu bangga dong, berarti tulisanmu cukup berkualitas untuk diterbitkan.” Bukannya bersyukur ada yang menghibur, aku malah langsung meradang. “Bangga? Yang benar saja! Sudah susah-susah nulis juga!”

Sejak kejadian itu, semangatku untuk menulis blog turun drastis. Buat apa susah-susah mikir kalau jatuhnya disalin orang dengan seenak jidat? Sampai multiply gulung tikar pun aku tak peduli. Kubiarkan saja tulisanku ikut hilang bersama sang domain. Bahkan buku fisik Rumahku Sekolahku pun tak lagi kusimpan, kuhibahkan kepada orang lain daripada melihatnya di rak cuma bikin sakit hati. Kasus itu seperti tamparan kasar untukku, hingga aku tak bersemangat menulis selama beberapa waktu.

Sampai suatu saat, aku bertemu beberapa penulis di dunia nyata dan kemudian tergoda untuk mulai aktif menulis lagi. Kali ini bukan dalam bentuk literasi digital, tetapi fisik. Aku menulis cerpen dan mulai belajar menulis novel. Setelah melalui proses dan drama yang panjang, bukuku akhirnya terbit.  

Bersamaan dengan proses penulisan novel, pada tahun 2015, aku juga mulai membuat blog baru di sini.  Awalnya tidak jelas juga isinya, kebanyakan curhat, tapi setelah mengikuti komunitas narablog, aku mulai mengambil fokus supaya blogku bisa menghasilkan. 

Kini, bertahun-tahun setelah kasus plagiarisme blogku, aku sangat sepakat dengan ucapan temanku, bahwa aku memang harus bangga tulisanku diplagiat, karena sudah terbukti tulisanku layak terbit, dan layak dibayar dengan sepadan. 

Bangga yang terlambat ya? Hehehe, tapi lebih baik terlambat kan, daripada tidak sama sekali? Memang hikmah bukan jenis benda yang kasat mata seperti sepotong klepon di meja makan.

Hal itu pula salah satunya yang melecutku untuk menyusun resolusi bagi blogku di tahun 2019 ini, yaitu memperbanyak konten yang bermanfaat dengan bahasa yang lebih santai dan menghibur. Maksudku, tidak semua orang bisa langsung menangkap hikmah dari sebuah kejadian, bukan? Berlaku juga dengan tulisan. Mungkin dengan cara yang lebih menghibur, pembaca lebih mudah menangkap pesan yang ingin kusampaikan, agar tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan hikmah, tidak seperti aku yang butuh bertahun-tahun untuk mengambil hikmah dari sebuah peristiwa. 

Bagaimana kalau diplagiat lagi?





Kali ini aku tak akan diam saja.

Enyah kau, plagiator, atau pilih mati kukitik-kitik? 

Jumat, 04 Januari 2019

Mr. Mac Resto Malang, Kualitas Bintang 5 yang Ramah Kantong



Beberapa tahun terakhir ini warga kota Malang dimanjakan oleh berbagai pilihan kuliner yang semakin beragam jenisnya.  Mulai makanan lokal yang dikemas dengan cara baru dan kreatif, hingga makanan internasional yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Ingin mendapatkan kedua jenis kuliner tersebut tanpa harus berpindah tempat?  Hayuk ke Mr. Mac Resto Malang.




Resto yang menyajikan masakan  Indonesia dan masakan barat ini didirikan oleh Bapak Machrus, yang tiga huruf awalnya kemudian diabadikan menjadi nama resto ini. Ditambah kata “Mister” di depannya untuk menggambarkan bahwa yang disajikan adalah makanan barat. 

Owner Mr. Mac Resto Malang


Ya, resto ini berawal dari gerai ayam goreng krispi -atau yang lebih dikenal dengan istilah fried chicken dari barat- di food court toko buku Siswa, Malang. 

Gerai ini dibuka pada tahun 1995 dan mengalami masa keemasan pada tahun 1998-2004, dimana dalam sehari bisa menghabiskan 70-110 ekor ayam. 

Ayam goreng krispi, menu andalan Mr. Mac Resto Malang


Pada tahun 2005 isu flu burung menerpa dan berimbas pada semua bisnis makanan berbasis unggas, termasuk gerai Mr. Mac. Untunglah kondisi ini tidak membuat Pak Mac (panggilan akrab founder-nya) berputus asa. 

Pada tahun 2006, beliau membuka resto di Kepanjen, tepatnya di Jl. Kawi 25. Disusul kemudian cabang Turen (tepatnya Jl. Panglima Sudirman) pada tahun 2008. Kedua resto ini tidak hanya menjual ayam goreng, tapi juga menu lain yang berkembang terus jenis dan rasanya.

Pada penghujung tahun 2018, dibukalah resto ketiga di kota Malang, yaitu di Jl. Cengger Ayam, depan Masjid Al Hikam agak ke selatan. Meskipun ayam goreng tetap menjadi menu andalan di semua restonya, tetapi kini Mr. Mac Resto Malang telah menyediakan puluhan jenis makanan dan minuman yang bisa dipilih sesuka hati. 

Untuk pengolahannya, dapur Mr. Mac Resto Malang digawangi oleh chef yang berpengalaman di hotel berbintang.  Dengan kualitas yang begitu terjaga, mungkin kita menyangka bahwa harga makanan dan minuman di Mr. Mac bakal semahal resto hotel berbintang juga, yang biasanya air mineral saja dijual berkali-kali lipat dari harga pasarnya? Hohoho, jangan tekecoh, Fernando. Lihat sendirilah betapa ramah kantongnya menu di Mr. Mac, yang kualitasnya sekelas bintang 5 ini.  

Tuh, ramah kantong banget kan?
    

Rice bowl-nya dagingnya besar-besar loh




Nasi gorengnya porsinya lumayan besar

Ini nih andalannya

Spesial iga

Sundae, best seller beverages-nya Mr. Mac Resto

Tamie, porsinya besar, cuma 15 ribu

Cwie mie yang khas Malang juga nggak ketinggalan

Bukan cuma menunya yang oke, suasananya cozy banget loh, cucok buat kumpul-kumpul teman, keluarga dan kolega. Mau sendirian juga asyik aja karena ada wifi-nya.

Teras luar lantai 2 Mr. Mac Resto Malang

Seru buat kumpul-kumpul

Salah satu sudut yang cozy

Instagramable banget dah


Tersedia proyektor LCD untuk yang mau bikin acara di sini

Mushollanya pun bersih

Tunggu apalagi? Cuzz dah ke Mr. Mac Resto Malang, di Jl. Cengger Ayam No. 30, Malang. Mager? Udah bisa gofood loh. Oiya bagi yang mau reservasi untuk acara apa aja, bisa langsung kontak 082141845113. Happy kongkowing temans!

Selasa, 20 November 2018

Taman KLCC, Oase di Tengah Hutan Beton Kuala Lumpur







Seperti lazimnya ibu kota negara berkembang di bagian manapun dunia ini, Kuala Lumpur disesaki oleh gedung-gedung menjulang dan pembangunan yang tak henti-hentinya. Suara mesin berputar, alat berat, paku bumi yang dihunjamkan dalam-dalam, kendaraan yang berlalu-lalang, menjadikan ketenangan seperti sebuah utopia bagi siapapun yang beraktivitas di dalamnya. Tak terkecuali wilayah padat di KLCC alias Kuala Lumpur City Center.

Bangunan paling ikonik di KLCC tentu saja adalah Menara Kembar Petronas (Petronas Twin Tower) yang telah menjadi semacam respresentasi Malaysia sejak berdiri pada tahun 1998. Meskipun bukan lagi menjadi gedung tertinggi di dunia setelah dikalahkan oleh Burj Khalifa (2010) dan Taipei 101 (2004), menara ini tetap menjadi primadona wisata di Malaysia dengan ribuan pengunjung yang bersedia membayar puluhan ringgit demi naik ke atas dan melintasi jembatan udara (skybridge) setiap hari aktifnya.  Itu masih belum termasuk mereka yang menghabiskan waktu di Suria KLCC, pusat perbelanjaan yang berada di lima lantai terbawah Menara Petronas, serta para pengunjung Petrosains yang masih berada dalam satu gedung. Tak heran jika gedung seluas 395.000 meter persegi itu terasa sangat padat terutama  pada jam kantor.

Melengkapi kepadatan menara kembar, masih ada Menara Carigali yang terhubung dengan sang menara ikonik,  juga Menara Exxon Mobil, Menara Maxis, Menara Prestige, Hotel Mandarin Oriental, Hotel Traders dan berbagai gedung lain yang memantapkan wilayah KLCC sebagai hutan beton yang seolah-olah menganaktirikan alam.

Untungnya, ibu tiri tak selalu sekejam ibu kota sehingga anak tiri pun bisa mendapatkan haknya.
Di sana, di belakang gedung kembar (yang masih) tertinggi di dunia, terhampar oase seluas 20 hektar, tempat jiwa-jiwa gersang pemburu uang dan belanjaan dapat mencari kesejukan.

KLCC Park atau Taman KLCC, adalah oase itu.




Terdiri dari danau buatan yang menyuguhkan atraksi air mancur menari dua kali dalam sehari, kolam renang untuk anak-anak, taman bermain dan banyak tempat duduk, taman ini juga dirancang untuk menarik burung-burung lokal dan migran dengan cara pemilihan jenis tumbuhan secara teliti, sehingga hasilnya terlihat dalam deretan 1900 pohon lokal  termasuk 66 spesies pohon palem, yang akan membawa benak kita keluar sejenak dari kebisingan kota.

Tempat istimewa ini tidak terlihat dari jalan utama Ampang Road. Kita harus masuk dulu ke Menara Petronas kemudian  keluar melalui pintu belakang, atau bisa pula melalui jalan di samping gedung tersebut, yang seringkali padat oleh kendaraan.


Tidak ada biaya yang harus dibayarkan untuk bisa menikmati keindahan Taman KLCC. Bahkan kolam renang anak-anaknya pun bebas biaya. Pengunjung hanya diwajibkan untuk menjaga kebersihan dan keindahan. Tidak sulit, bukan? Karena itulah harapan sederhana dari Roberto Burle Marx (Brazil), perancang taman ini, yang berharap keberadaan taman ini membuat manusia lebih peka akan alam dan lingkungannya. Sudahkah kita?

(Tulisan ini dimuat di majalah DeQi edisi Oktober 2018)
 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About