Pages

Jumat, 11 Oktober 2019

Ini Caraku Menjaga Kewarasan, Apa Caramu?




Bagi orang dengan mental disorder/mental illness, mengakui bahwa dirinya ada dalam kondisi tersebut adalah suatu perjuangan. Apalagi di Indonesia yang warganya suka sekali memancang stigma. Tapi di bulan ini, bulan di mana ada World Mental Health Day, banyak orang akhirnya berani bersuara, mengakui bahkan menulis tentang penyakitnya, demi membuka mata masyarakat.

Film Joker yang baru-baru ini tayang, terlepas dari pro kontranya, lumayan membantu menyadarkan khalayak untuk lebih peduli terhadap gangguan mental.

Bagiku sendiri, nggak mudah menuangkan hal ini dalam bentuk tulisan. Selama ini cuma keluarga dan teman dekat yang tahu kondisi ini. Tapi demi #mentalhealthawareness, akhirnya aku tulis juga. Jangan dibully ya teman, aku nangisan, hahaha...


&&&

Pernahkan kamu merasa lelah lahir batin, fisik dan psikis, bahkan saking putus asanya sampai ingin hidup ini berakhir?

Aku pernah.

Tiba-tiba menangis di tengah keramaian tanpa sebab yang jelas. Bahkan di tengah pesta yang penuh keriuhan pun aku merasa sedih.

Aku juga gampang sekali lelah meskipun aktivitasku nggak berat.  Aku bisa tidur setengah hari  cuma karena jalan kaki ke minimarket. 

Konsentrasi adalah hal yang berat buatku. 
Kalau ada yang mengajakku bicara, aku cuma bisa mendengarkannya beberapa menit aja. Selebihnya, pikiranku terbang ke mana-mana. 

Buku yang biasanya jadi sahabatku (seminggu bisa selesai 2 buku), tak lagi bisa kunikmati, karena aku cuma bisa fokus di satu dua halaman aja, selebihnya buyar.

Orang yang lihat kondisiku biasanya berujar, “Kamu kenapa sih, mbok ya bersyukur, hidupmu itu lho udah enak banget. Lihat si itu, hidupnya susah, bla..bla..bla..”

Apa nasihat ini bikin aku merasa lebih positif?

Enggak. 

Justru sebaliknya, aku merasa makin terpuruk, menyalahkan diri sendiri, kenapa nggak bisa bersyukur, kenapa nggak bisa positive thinking, kenapa nggak punya semangat, dsb dll. (Belakangan aku baru tahu kalau ini disebut toxic positivity).


Sumber konten: sehatmental.id



Sampai suatu ketika aku merasa udah nggak kuat lagi, di twitter aku menemukan sebuah  akun yang concern terhadap mental illness. Dalam twitnya dia memberi dorongan supaya kita mencari bantuan jika merasakan tanda-tanda seperti yang kurasakan.

  

Akhirnya, dengan agak was-was aku menghubungi seorang teman yang kebetulan seorang konselor psikologi. Kenapa was-was? Yah, memang begitulah kondisiku, kuatir dengan semua keputusan yang telah dan akan aku bikin. Rasanya seperti aku nggak siap dengan konsekuensi yang timbul. Apapun itu. Apakah aku akan dihakimi? Apakah dia mau mendengarkan? Akankah aku merasa lebih baik? Gimana kalau sebaliknya? Apakah ini keputusan yang tepat?

Untungnya, konselorku ini paham sekali bagaimana berkomunikasi dengan orang sepertiku. Aku yang sebelumnya ragu untuk minta bantuan, akhirnya berhasil membulatkan tekad. Aku nggak mau gini terus. Hayati lelah, Bang.

Pertama kali kali tatap muka, yang kulakukan cuma nangis dan nangis. Aku juga nggak tau kenapa, rasanya semuanya berjubel jadi satu di kepalaku tanpa ada yang bisa kuungkapkan. Untungnya (lagi), konselorku itu nggak menekan untuk cerita atau apa. Saat aku udah mulai tenang, aku diminta melakukan beberapa hal seperti menggambar dll, yang nanti akan dianalisa oleh beliau. 

Beliau juga menenangkanku dengan menjelaskan bahwa kondisi yang aku alami ini jamak terjadi pada perempuan, jadi aku nggak perlu merasa aneh atau gimana. Di pertemuan ke sekian yang membahas tentang hasil analisa, beliau juga menjelaskan bahwa hormon punya pengaruh di sini. 

Hormon perempuan memang berbeda dengan laki-laki, jadi memperlakukannya pun nggak bisa sama. Kondisi seperti ini juga bukan disebabkan oleh kurang iman, kurang bersyukur atau hal semacam itu (komentar yang biasanya dilontarkan orang-orang). Perempuan susah menerima nasihat bukan karena bebal atau keras kepala, tapi karena memang perempuan nggak begitu saja percaya pada kata-kata. Bagi kami, tindakan lebih berbicara daripada ucapan. Perempuan biasanya mudah memaafkan, tetapi perlu dibantu supaya bisa berdamai dengan keadaan.

Setelah hasil analisaku muncul, aku mulai mengikuti terapi. Terapinya berupa pijat relaksasi dan terapi dyad (silakan gugling untuk penjelasannya). Pijat relaksasi ini adalah terapi yang aku tunggu-tunggu karena aku seringkali susah tidur (walaupun di saat lain aku bisa tidur seperti kerbau).
  
Selain menjalani terapi, aku disarankan agar dalam keseharian, aku cukup memberi waktu untuk diri sendiri, keluarga, pasangan dan teman. Jaga keseimbangan dunia dan akhirat, agar nggak timpang. Ini yang paling aku garisbawahi, karena anehnya, saat paling tertekan dalam hidupku adalah saat-saat di mana aku banyak beribadah dan nyaris tak punya waktu untuk menghibur diri. 

Awalnya memang susah untuk berubah. Tapi ketika aku mulai mencoba melakukannya dan hasilnya aku merasa lebih bahagia, aku tahu ini adalah cara yang benar. Lagipula, kalo bukan kita yang peduli pada diri sendiri, siapa lagi?

Cara yang kutempuh pertama kali adalah kembali membaca buku fiksi yang kusukai (Harry Potter di urutan teratas). 

It works

Lalu menulis. 

Dua hal ini, Alhamdulillah akhirnya sangat membantuku untuk tetap waras (asal nggak membaca buku bertema mental illness aja, karena aku pernah baca 'Semusim dan Semusim Lagi', yang ada akunya malah tambah stress). 

Membaca adalah intake, sedangkan menulis, ternyata adalah need of achievement-ku, karena di bidang itu setidaknya aku bisa punya prestasi (menang lomba, novel diterbitkan, blog menghasilkan, dll), sehingga aku bisa sedikit punya kepercayaan diri bahwa aku bisa juga melakukan sesuatu dengan benar, bukan ragu-ragu dan salah mulu.

Aku juga disarankan untuk refreshing secara berkala, tanpa menunggu gejala depresiku muncul. 

Karena aku merasa sangat terbantu oleh pijat relaksasi konselorku, aku mulai cari-cari di mana tempat pijat yang menyediakan pijat relaksasi yang dekat dengan rumahku, jadi sewaktu-waktu perlu, aku bisa pijat di luar jadwal terapi.

Pas cari-cari, eh nemu banyak pilihan tempat spa dan pijat di Traveloka Xperience. Surprise dong. Ternyata Traveloka nggak cuma bisa buat pesen tiket, booking hotel dan bayar tagihan, pesan tempat pijat pun bisa.


Pilihan spa dan pijat di Traveloka Xperience


Pilih sesuai kebutuhan

Pilihan paket

Harganya juga ekonomis banget, lebih murah daripada paket aslinya. Paket 125 ribu cuma ditebus 100 ribu, ngirit 25 ribu tuh berarti banget lho, bisa buat makan sehari, hahaha *mukaanakkos*.

Trus trus, setelah beli paket, tinggal meluncur ke lokasi tanpa harus repot lagi. Cucok meong buat aku yang belum mampu buat repot-repotan. Udah hemat, praktis lagi.






Bukan cuma spa, Traveloka Xperience juga menyediakan tiket masuk segala macam hiburan, mulai atraksi, bioskop, event, olahraga, taman bermain, tur, bahkan kursus, kuliner dan pelengkap perjalanan macam airport lounge, rental wifi, pembelian SIM card negara tujuan, serta pemotretan profesional pun ada. Pokoknya, selama trip kita tinggal jalan aja, nggak perlu repot dengan hal-hal yang menguras emosi dan membuang-buang waktu. Cocok banget pokoknya buat kita yang maunya memperbaiki mood dan kondisi psikis. 
Soalnya kan, kadang-kadang jalan-jalan juga bisa malah menyebabkan stress. 
Antrian mengular di loket pembelian tiket masuk adalah salah satu yang bikin sebel. Bukannya bersenang-senang, eh malah ngomel-ngomel gara-gara harus berdiri di antrian, apalagi kalau akhir pekan. Giliran bisa masuk ke lokasi, udah capek duluan. Rugi kan? Batal refresh deh. Malah timbul masalah baru buat orang dengan kondisi psikis kayak aku. 




"Tapi aku sehat-sehat aja nih, Kak. Gimana caranya kasih dukungan untuk teman atau keluarga yang ada gejala gangguan mental?"

Bagus banget nih kalau ada yang nanya begini. Orang dengan mental illness butuh sekali dukungan dari lingkungan. Apa aja yang bisa dilakukan?


  • Menerima dan membuatnya merasa dihargai

Alih-alih menghakimi atau membandingkan (yang cuma akan membuatnya merasa lebih buruk), ini kalimat-kalimat pendukung yang bisa dicoba:


Sumber konten: sehatmental.id


  • Tetap libatkan dalam aktivitas 

Walaupun mudah lelah, tetap libatkan dia dalam aktivitas kalian, tentu saja dengan porsi yang nggak berlebihan, agar dia nggak bertambah tertekan karena terkungkung dalam dunianya sendiri. Perbanyak humor ketika berada di dekatnya.


  • Ajak untuk minta bantuan profesional 

Mungkin nggak mudah untuk mengajaknya, tapi tetap usahakan ya, yakinkan kalau kondisi itu bukanlah kesalahannya, menemui profesional akan membantunya untuk lebih baik.

Kalau yang mengalami gejala ini kamu sendiri, jangan segan cari bantuan professional ya. Jangan didiagnosa sendiri, jangan pula mudah percaya teman yang ngomongnya suka seenak udel.

Nggak perlu kuatir mahal, karena klinik kesehatan jiwa termasuk yang di-cover oleh BPJS. Yang penting kamunya sehat.

Iya, kamu! 

Jangan lupa bahagia juga. 

Kalau perlu refreshing dan #xperienceseru, segera deh cuzz ke Traveloka Xperience.

#worldmentalhealthday
#mentalhealthawarenessweek

Senin, 23 September 2019

Apa yang Menarik di Bangkok? (Another Story of 'Dikerjain Oknum Orang Lokal')


Nggak terasa, udah nyaris 3 tahun berlalu sejak aku mblakrak ke Bangkok, merasakan suka dukanya jalan-jalan tanpa ikut paket trip manapun (baca:  Jalan-jalan ke Bangkok: Dikadali Restoran).

Sebagai orang sanguinis yang naruh kacamata aja lupa, adalah tantangan berat buatku untuk recalling hal-hal yang lebih lama dari setahun. Kalau aku bisa inget, itu artinya hal tersebut cukup menarik bagiku sehingga memorable enough. Jadi kalau aku berhasil nulis di sini, yes, it's interesting.

Trus apa aja dong yang menarik dari Bangkok?

Aku urutkan sesuai dengan yang paling kuinget ya, ini dia:

1. Kebersihan

Ini yang paling kuingat dari Bangkok: Nggak ada sampah di manapun! 

Bahkan untuk tempat-tempat crowded macam pasar tradisional juga bersih banget. Anehnya, di kota ini jarang banget ada tempat sampah lho. Trus apakah orang Bangkok nggak pernah nyampah? Well, yeah, setelah hampir mati penasaran, aku lihat di Pratunam Market, pemilik kios menggantung sampahnya di pintu kiosnya ketika tutup. Bisa ditebak, tujuannya untuk diambil oleh petugas kebersihan. Jadi mereka ada kesadaran untuk ngumpulin sampahnya sendiri meskipun nggak ada tempat sampah. Sampahnya juga digantung, jadi nggak bikin lantai pasar jadi kumuh atau becek. Tampaknya kesadaran ini sudah mendarah daging dalam diri mereka sehingga kotanya super duper bersih. 

Pratunam market dengan kresek sampah tergantung di pintu. Gambar ngambil di culturetrip.com gegara aku sendiri gak sempat ambil foto, sibuk cari oleh-oleh, wkwkwk.
Kalo pasar aja bersih, jangan tanya gimana mal, transportasi publik dan bandaranya. Kinclong. Waktu susur sungai Chao Praya juga kan kita naik kapal bermotor. Nggak ada istilahnya kapal ngadat gegara baling-baling kesangkut sampah, seperti yang aku alami berkali-kali ketika nge-trip ke Sombori which is lautnya laut lepas, tapi kapal jadi sering berhenti karena baling-balingnya tersangkut sampah (seringnya plastik).

Sedih nggak sih?


2. Sungai Chao Praya

Ada 2 cara menikmati kota Bangkok dari ujung ke ujung tanpa berkali-kali ganti moda transportasi, yaitu dengan Skytrain dan dengan kapal di sungai Chao Praya.


Hari ke dua kami di Bangkok, udah niat banget mau susur sungai. Karena nggak yakin dermaga mana yang bisa dijadikan tujuan (ada beberapa pilihan), alih-alih naik Uber, kami memutuskan untuk naik tuktuk. Daann.. lagi-lagi kami dikerjai sama penduduk lokal alias sopir tuktuknya. Tarif tuktuknya tuh murah banget, nggak jauh-jauh sama yang aku ceritain sebelumnya, tapi sopirnya bilang, dia akan ngajak kita mampir ke beberapa toko sebelum ke dermaga, kita boleh beli boleh enggak, katanya demi buat dia beli pulsa. Kita tau sih dia pasti dapet fee dari toko oleh-oleh itu, karena itu kita nurut aja karena kasian liat mukanya gitu. Di toko oleh-olehnya sih nggak masalah ya, kita emang perlu beli beberapa barang, tapi ternyata setelah itu kita diantar ke dermaga pribadi dong, bukan dermaga umum. Dermaga pribadi itu maksudnya dermaga khusus untuk kapal yang disewakan buat turis. Sewanya satu kapal sejeti (kalo dikurskan rupiah). 
Eh ajegile, kita kan maunya naik kapal umum, bukan yang beginian. Ya jelas kita tolaklah. Eh dianya marah-marah, ngata-ngatain kita macem-macem. Bapakku balik marah dong, enak aja maksa. Duit nenek loe?

Aku sama Deby langsung ngibrit sambil cekikikan. Bapak sama Mama masih ngomel-ngomel di belakang. Kita nanya sama orang sekitar di mana dermaga yang buat umum, tapi nggak ada yang bisa bahasa Inggris dan kita juga bingung jelasinnya gimana kalo pake bahasa tarzan. Akhirnya kita cari aja sendiri pake google map. Sempat kesasar-sasar sih, tapi seru aja karena kita jadi liat kehidupan masyarakat lokal. Dari situ juga kita tau kalo biksu mendapat makanan dari derma masyarakat dan betapa hormatnya mereka terhadap para biksu. 

Setelah salah belok beberapa kali, akhirnya kita sampai juga di dermaga dan ketemu sama orang yang bisa bahasa Inggris, yaitu seorang cewek yang dari penampilannya sih kayaknya mahasiswa. Kita nanya berapa tarifnya naik kapal. Logat Thailand emang agak susah dipahami ya buat telinga kampungku, aku dengernya dia bilang 'seventy'. Kalo dikurskan sekitar dua puluh ribuan, masih murah lah ya. Eh ternyata begitu naik kapal, ternyata cuma ditarik 17 bath alias seventeen. Duh, untung lebih murah, coba kalo lebih mahal (seven hundred misalnya), bisa minta turun di tengah jalan kita, wkwkwk. 


Ini dermaga yang bener, hahaha...


Tarif kapal ini kayak naik angkot, jauh dekat sama aja. Jadi kami yang naik sampe dermaga terakhir pun (durasinya sekitar 2 jam) tarifnya tetep 17 baht. Kayak Malang-Surabaya deh, tapi bayarnya nggak sampe sepuluh ribu, hehehe...

Ini salah satu dermaga yang kami lewati, Sathon Pier, entah dermaga berapa lupa akutu. Sebenarnya awalnya dermaga inilah tujuan kita (meskipun nggak yakin juga, makanya nanya sopir tuktuk). Kata sopir tuktuk sih ini deket, makanya tarifnya murah. Eh ujungnya, dikerjain lagi, hahaha...

Waktu itu kami naiknya pas rame, jadi harus berdiri dulu. Tapi nggak lama kok. Nanti kalo ada yang turun, baru deh bisa duduk. 


Penuh



Banyak yang berdiri. Eh adeknya nengok.

Saking lamanya durasi perjalanan kapal ini, akhirnya kami harus sholat dhuhur jama' sama ashar di kapal dengan baju seadanya. Untung pake kaos kaki. Untung juga nggak nunggu kapal nyampe tujuan baru sholat, soalnya waktu kita turun di dermaga terakhir dekat Asiatique, udah hampir maghrib.

Gini nih penampakan kapal dari luar. Panjang banget ya? Kayak bus. 

Meskipun perjalanan untuk sampai ke sungai ini diwarnai drama, tetap aja dari keseluruhan trip, menyusuri sungai Chao Praya adalah yang paling aku nikmati. Mungkin karena aktivitasnya tinggal duduk santai menikmati pemandangan, kena panas, kena angin, ngantuk-ngantuk, nggak ada polusi. Surga dahh. Lagipula, aku  memang jenis orang yang suka ritme lambat kalo nge-trip.




3. Keliling Bangkok naik Skytrain

Nyomot dari wikipedia karena nggak kepikir buat ambil foto saking menikmatinya


Seperti yang aku bilang di atas, selain susur sungai Chao Praya, cara yang menyenangkan keliling Bangkok adalah dengan Skytrain. Yup, naik kereta layang. Kalo di Singapura kita naik MRT pemandangannya cuma tembok mulu, di Bangkok kita bisa lihat pemandangan kota dengan jelas dari atas. Yah, tahun segitu kan belum ada kereta bandara di Jakarta yang juga kereta layang, jadinya waktu di Bangkok tuh rasanya kayak orang kampung baru pertama ke kota gitu deh, hahaha...

Peta transportasi on rail Bangkok tahun 2016. Sekarang pastinya udah beda karena tahun segitu jalur ke DMK aja belum selesai.

4. Makanan

Duh, aku nyesel kenapa cuma makanan di Sombondee aja yang aku foto waktu di Bangkok ya? Yah, meskipun dikadali sama restorannya (ceritanya ada di tautan yang kuposting di atas), kuakui, seafood di situ enak banget. Belum pernah nemuin yang kayak gitu di kampung halaman. 
Kalo mango sticky rice kan udah wajib ain bagi siapapun kalo ke Thailand, jadi nggak perlu diceritain ya? 

Waktu di dermaga terakhir sungai Chao Praya, kita nemu semacam pasar gitu yang jualan makanan, nah di situ ada kayak otak-otak, terbuat dari ikan (penjualnya pasang gambar, jadi gak perlu susah-susah nanya sambil kebanyakan gaya ala tarzan), yang enak bangettt. Entah kenapa waktu itu nggak beli banyak sekalian buat bekal balik ke hotel, soalnya habis itu kita kesulitan cari makanan lokal yang halal dan ujungnya ke kaepsi.
Eh tapi jangan disepelein juga, meskipun resto sejuta umat, menu di kaepsi Thailand tuh enak lho. Ayamnya dikasih topping berbagai rempah-rempah jadi rasanya nendang banget, khas Asia gitu. Ada bawang merah yang diiris tipis kayak bumbu sate. Besoknya waktu mo pulang juga kita take away ayam ini buat dimakan di bandara (ngirit mameenn daripada beli makan di bandara).

Tomyam yang enak tapi mbendhol mburi, hihihi...

5. Bandara

Tahun 2016 aku udah dibikin jatuh cinta sama Don Muang (DMK), salah satu bandara di Bangkok yang khusus untuk LCC (Low Cost Carrier) alias pesawat murah. Di saat bandara di Indonesia masih gitu-gitu aja, DMK berhasil bikin aku betah, bahkan rasanya kepingin nginep aja di situ daripada sewa hotel. Karpetnya tebel, dipake jalan aja enak, apalagi tidur, hahaha...
Di karpet tebel itu juga aku bisa gelar sajadah di pojokan ruang tunggu dan sholat. ACnya dingin banget dan dispenser air ada di mana-mana jadi kita bisa isi tumbler sesuka hati. Jangan bawa botol plastik yang sekali pakai itu ya, percuma karena nggak boleh masuk penerbangan internasional. 

Foto nyomot dari web bandara. Foto pas di ruang tunggu keberangkatan yang super nyaman itu udah nggak ada lagi, jadi aku kasih ini aja yang bebas dicopas. Kalo mau liat ruangan tunggu keberangkatan internasional bisa gugling aja ya, yang banyak punya shutterstock.


Kayaknya cuma 5 hal itu yang menarik dari Bangkok bagiku. 

Kenapa malah tempat wisatanya nggak ada yang masuk? 

Well yah, monmaap nih, aku nggak begitu terkesan dengan tempat wisata di sana. Sekedar 'karena udah di Bangkok ya harus ke situ' aja. Menggugurkan kewajiban lah. Wat Arun sama Wat Pho jelas dikunjungi. Tapi terkesan? Enggak. Biasa aja kayak mengunjungi candi-candi di negeri sendiri gitu rasanya. Bedanya, apa yang mereka omongkan, kita nggak ngerti, wkwkwk. 
Etapi kalo di Wat Arun sama Wat Pho sih banyak turis Indonesia. Penjualnya juga banyak yang bisa bahasa Indonesia. Peringatan aja, jangan mau dikasih harga pake rupiah, kayaknya murah, tapi kalo dikurskan, tetep lebih murah pake baht.

Jadi, apa kalian masih tertarik ke Bangkok? Atau aku berhasil bikin kalian ilfill? *evilgrin*

Rabu, 24 Juli 2019

Menemani Ortu Sakit: Drama Cari Tiket Online

Ibu opname.

Apa yang terasa kalau denger kabar begini?

Panik?

Sama dong.

Aku juga panik pas tiba-tiba mamaku bilang kalau disuruh opname sama dokter. Memang sih mama pernah kena stroke karena darah yang kental, tapi selama ini selalu bisa jaga kesehatan sehingga nggak sampai kambuh lagi. 
Ada asma juga sih tapi biasa nebulizer sendiri karena ada alatnya di rumah. 

Jadi ada apa ini?

Mamaku sendiri juga bingung sama keadaannya, jadi nurut aja sama dokter yang bilang bakal dites ini itu untuk memastikan kondisinya. 

Karena bapak di Bandung juga sedang sakit (nggak mungkin dong jagain di rumah sakit), kakakku dan adik bungsuku kerjaannya nggak bisa ditinggal, terus adikku yang cewek sedang ada ujian di KL, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat ke Bandung buat nemeni mama di rumah sakit.

Aku segera cari tiket kereta tujuan Bandung yang berangkat hari itu. 
Ternyata ludes semua, sodaraa!

Aku coba cek pemberangkatan dari Surabaya, eh sama ludesnya. Penasaran, aku juga cek pemberangkatan dari kota-kota lain (maksudku mau ganti-ganti kereta gitu atau nyambung bus-kereta), ternyata semuanya habis, sampai pemberangkatan dari Yogya pun sama. Padahal itu kota terjauh yang bisa aku jangkau kalau mau oper moda transportasi. 
Bukan cuma tujuan Bandung. Tujuan ke Jakarta pun tak beda. Seandainya ada 1 aja kursi kosong ke Jakarta, lebih mudah bagiku untuk ganti kendaraan karena dari Jakarta ke Bandung kan banyak moda transportasi yang bisa dipilih.

Nasib tak dapat tiket kereta, aku coba cari tiket pesawat murah, sambil bertanya-tanya apakah anggaranku cukup buat itu. Secara tau sendirilah, akhir-akhir ini kan harga tiket pesawat melambung gila-gilaan. 

Rejeki anak soleh tak kemana ya, ada diskon yang lumayan banget dari tiket pesawat Sriwijaya yang harga akhirnya jadi terjangkau sama anggaranku.

Diskonnya lumayan banget lho, coba liat deh..







Tuh, lumayan banget kan hematnya?


Nunggu boarding


Tapi perjuangan belum berakhir, sodara. Tiket yang aku dapat adalah tujuan Jakarta, karena entah kenapa, pesawat Malang-Bandung kok nggak ada jadwalnya. 
Jadilah nyampe di Cengkareng aku segera koprol demi mengejar jadwal bus Prima Jasa yang ke Bandung. Nggak sempat makan siang segala. Cuma beli minum sama arem-arem aja di Circle K.



Waktu di atas bus, aku heran kenapa jalanan macet banget. Keluar dari bandara aja nyaris sejam. Padahal biasanya kan Cengkareng-Bandung cuma 2-3 jam. Lalu baru nyadar dong kalo itu hari jumat! Ya ampunn, aku langsung panik nggak bawa bekel apa-apa, secara aku punya sakit maag. 
Dan beneran sodara, dari terminal 1 jam 3 sore, nyampe Bandungnya jam 9 malem dong!

Aduh udah lemes aja rasanya, berjam-jam enggak makan apa-apa dan nggak berani banyak minum karena takut kebelet pipis. Di bus sih ada toilet tapi sempit banget.  

Begitu nyampe di Bandung, aku dijemput temenku di pool Prima Jasa dan nggak buang waktu lagi mampir minimarket buat beli nasi kotak. Lumayanlah ya, duit hasil pengiritan tiket pesawat bisa buat beli makan, hahaha *mukaanakkos*.

Alhamdulillah, setelah perjuangan berdarah-darah, sampailah aku di rumah sakit yang udah sepi. 
Kita nyaris ditolak satpam buat masuk karena disangka mau jenguk, padahal jam jenguk udah habis.

Dan ternyata drama hari itu belum berakhir sodara. Setelah perjuangan seharian yang menguras keringat dan isi perut, aku nggak berani mandi karena kamar mandi di RS nggak ada air panasnya. (Buat yang pernah baca tulisanku di sini dan serial selanjutnya sampe ini, pasti tau dong kalo aku punya asma, yang dilarang mandi pake air dingin karena bakal memicu sesak nafas?)

Allahu akbar. What a day.

Untunglah, semua drama itu nggak ada artinya dibanding berita gembira bahwa keesokan harinya mamaku udah boleh pulang. Yeaayy.. Alhamdulillah..

*laluharushuntingtiketlagi*



Jumat, 21 Juni 2019

Terapi Alergi Bioresonansi, Mengapa Perlu Lanjut? (6)


Lama gak apdet...

Ini penyakit banget buat narablog suka-suka sepertiku ini. Sempat post Mal di Malang: Apakah Ramah Disabilitas sih, tapi itu sebenarnya tulisan lama yang ngendon di draft karena nunggu foto-foto. 
Tapiiii kali ini gak apdetku ada sebabnya lho, bukan cuma alesan. 

Jadi, beberapa bulan terakhir ini kondisiku drop parah. Tensi rendah, hb rendah, leukosit naik turun, asma sering kambuh, vertigo, demam menggigil padahal suhu di bawah 37°C, dll, dsb. 
Aku cuma bisa keluar rumah untuk ke dokter. Bahkan belanja lebaranpun mostly kulakukan onlen.

Sementara itu, beberapa email dari pembaca blog ini juga menanyakan perkembangan terapi alergiku setelah mereka baca serial terapi bioresonansi (yang dimulai oleh Mencoba Terapi Bioresonansi untuk Alergi). Aku bingung juga mau balas gimana sementara aku sendiri berhenti terapi tiap kali udah merasa enakan. Maunya sih ngirit biaya, tapi kok kambuh-kambuhan.

Kondisi ini terus terang bikin aku bingung. 

Demamnya agak membingungkan karena hasil tes widalku emang positif tapi rendah aja. Sempat periksa ke internist, tapi malah dimarahi ketika bilang kalo tipus (padahal ini menurut dokter umum yang sebelumnya kutemui).  Kata dokter penyakit dalam tersebut, orang Indonesia secara umum widalnya emang segitu karena kondisi lingkungan. Bukan berarti itu tipus. 

Lah, yang beda ilmu kan mereka para dokter itu kok yang dimarahi pasien sih? Hadeh, enggak lagi deh aku balik ke dokter itu. Males banget.

Karena asmaku juga sering kambuh, aku dirujuk ke spesialis paru oleh faskes tingkat pertama. Aku ambil di RSI Unisma ke dr. Teguh. Beliau ini udah senior banget dan detil. Hasil labku diminta semua dan dijelaskan. Dari hasil lab itu, terlihat bahwa tubuhku memang sangat reaktif terhadap rangsangan dari luar alias hipersensitif. Bahasa sederhananya, tentaranya sangat protektif. Ibarat ada yang melempar kerikil aja, itu disangka bom dan seluruh pasukan akan waspada, tank dan senjata siap menyerang. 

Aku melongo. 

Puluhan tahun aku langganan dokter, baru kali ini aku ketemu dokter yang bisa menjelaskan kondisiku dengan bahasa yang sederhana sehingga akhirnya aku paham apa yang terjadi dengan tubuhku. Dengan begini aku jadi mengerti, kenapa beberapa kali dokter memberiku obat yang mengandung steroid, yang fungsinya supaya tubuh tidak terlalu reaktif.

Dokter berikutnya yang menjelaskan dengan panjang lebar tapi sederhana adalah dr. Lukman, spesialis penyakit mulut di RS Persada. Dokter ini santai banget dan mau menjelaskan dengan detil kondisi kita. 

Beliau menjelaskan bahwa jenis penyakit imunitas itu ada 3. 
Yang pertama adalah penyakit autoimun, di mana tubuh bingung mengenali teman atau lawan, semuanya diserang.
Yang kedua adalah hipersensitif, di mana tubuh kita lebay, terlalu protektif dan sensitif melindungi diri. 
Yang ketiga adalah tubuh kesulitan melindungi diri sendiri. Masuk di kategori ini adalah HIV/AIDS.
  
Sebelum ini, saking bingungnya aku dengan kondisiku, aku sempat menyangka kena penyakit autoimun. Setelah dijelaskan oleh kedua dokter tersebut, legalah aku sekarang karena tau kalo aku masuk kategori ke-2. Cuma lebay aja, nggak bingung dan nggak kehilangan kemampuan melindungi diri. 

Jadi sekarang tuh kalo flu berat, gatel-gatel, asma dan sembarang gejala muncul, aku ngerti kalo tubuhku sedang melindungi diri aja. Mungkin dari virus, mungkin dari bakteri, atau mungkin juga cuma biar nggak sakit hati #eaa.

Eh ya, sewaktu periksa ke dua dokter tersebut aku pake BPJS lho. Mereka bener-bener dokter-dokter yang penuh dedikasi, yang nggak pelit ilmu meskipun kepada pasien BPJS. 
Salut kan?

Dengan bekal penjelasan tersebut, aku paham kenapa alergiku kambuh-kambuhan. Ya memang karena terapinya belum tuntas. Dari 54 jenis alergen yang tubuhku resisten, mungkin baru beberapa aja yang bisa diterima oleh tubuh. Itulah mengapa tubuhku masih juga reaktif terhadap banyak zat dan kondisi. Kalo mau bener-bener sembuh, aku harus mulai mengatur diri. 

Dengan pasukan yang overprotektif, memperbaiki daya tahan tubuh adalah prioritas pertama. Ibaratnya, daya tahan ini seperti benteng, yang kalo dibangun dengan baik, jika suatu ketika ada serangan, pasukan nggak perlu siaga dengan the whole army karena ada benteng yang bisa diandalkan lebih dulu.

Nah karena seperti membangun benteng, memperbaiki daya tahan ini butuh komitmen, harus konsisten step by step. Untuk ini, aku memutuskan pake jasa personal trainer di gym supaya latihanku jelas dan terpantau. Selama ini kan aku olahraga sendiri yang nggak jelas aturan dan ukurannya, suka-suka aja, jadinya hasilnya juga nggak jelas, wkwkwk.

Yang kedua, aku harus mulai melanjutkan lagi terapi bioresonansi karena dengan gelombang yang sama (sebagaimana yang kuulas dalam Mencoba Terapi Bioresonansi), tubuh tidak akan lagi menganggap 'kerikil-kerikil' sebagai ancaman. 
Kali ini aku harus bener-bener konsisten, walaupun sudah enakan, tetep harus lanjut sampai tuntas.

Aku memilih terapi lanjutan di Persada Hospital (bukan lagi di RSIA), karena di sana dokter dan asistennya perempuan sehingga lebih nyaman bagiku. Pun dokternya nggak harus hadir karena ada asisten khusus yang menangani. Kalo di RSIA kan kalo dokternya sibuk atau ke luar kota, terapinya libur juga. 

Alat terapi yang bikin rileks

Di Persada namanya biofisika. Biaya nggak jauh beda dengan RSIA. 


Baiklahh, mari kita lanjutkan proses ini. Doakan kali ini aku istiqomah ya manteman, dimudahkan rejeki juga untuk lanjut terapi. Amin..

Jumat, 17 Mei 2019

Mal di Malang: Apakah Ramah Disabilitas?



Gak nyangka, ternyata nyeri lutut ini banyak hikmahnya. Dengan kondisi fisik yang terbatas (baca: Lutut Nyeri, Kirain Penuaan Dini, Eh Ternyata Begini), aku jadi menimbang-nimbang tiap kali mau jalan ke mana gitu. Apakah tempat itu cukup ramah untuk kondisiku? Apakah harus lewat tangga? Toiletnya gimana? Mushollanya gimana? Dan setelah beberapa minggu menjalaninya, aku jadi kepikir buat bikin daftar seberapa ramah tempat itu untuk penyandang disabilitas, khususnya leg disabled, siapa tahu ada teman yang membutuhkan. Selain itu, info ini bisa juga dimanfaatkan untuk lansia, ibu hamil dan siapa saja yang terbatas kemampuannya.

Kali ini aku bikin daftar mal-nya dulu, sebagai area publik yang paling banyak dikunjungi.


Mal yang lumayan ramah disabilitas ada dua, yaitu:


1. Malang Town Square (Matos)

Untuk aktivitas di kondisi normal (baca: bukan kondisi darurat), Matos menyediakan lift dan eskalator datar walaupun eskalatornya hanya menghubungan lantai dasar (lower ground alias LG) dengan lantai 1 (ground alias G). Letaknya di depan Gramedia. 



Gramedia Matos

Dengan fasilitas ini, para penyandang disabilitas bisa dengan leluasa berpindah lantai.


Eskalator datar di depan Gramedia
Lift Matos


Toiletnya lumayan luas dan ada 1 bilik yang lebih luas dibanding bilik yang lain, sehingga kursi roda bisa masuk.  
Mushollanya luas banget dan ada AC-nya, tapi nggak ada jalan khusus buat kursi roda ke tempat wudhu. 

Jika terjadi kondisi darurat sementara kalian ada di lantai 3/upper ground (UG) atau 4/rooftop (RF) yang hanya ada akses eskalator tangga berjenjang padahal lift tidak bisa digunakan, kalian bisa mengambil jalur tempat parkir mobil yang berada di belakang mal. Tempat parkir ini ada di semua lantai Matos, jadi dengan mengikuti jalur ini kalian akan sampai juga di open space luar gedung.



2. Mal Olympic Garden (MOG)


So far, ini mal paling besar dan paling ramah disabilitas. Selain dilengkapi dengan lift yang lumayan luas (walaupun tempatnya di ujung banget dan tersembunyi), mal ini juga dilengkapi dengan eskalator datar yang panjang, menghubungkan semua lantai mulai dari tempat parkir sampai lantai teratas. Sehingga jika terjadi keadaan darurat yang tidak memungkinkan menggunakan lift, para pengguna kursi roda masih bisa memanfaatkan eskalator ini untuk menuruni gedung. 

Nah, kalo untuk keadaan darurat saja fasilitasnya memadai, apalagi untuk kondisi normal, ye kan?

 
Eskalator datar di MOG (sumber: flickr)



Hanya saja toiletnya yang agak kurang memadai bagi penyandang disabilitas, karena sempit banget, sulit diakses oleh kursi roda. Kursi roda mungkin harus ditaruh di jalur masuk karena kalo masuk area toilet akan memblokir jalan. 
Jenis penyiramnya pake bidet yang memancarkan air dari bawah. Aku nggak tau ini cukup ramah bagi penyandang disabilitas atau enggak.



Selain 2 di atas, mal selebihnya tidak bisa dibilang ramah disabilitas karena aksesnya kurang memadai, tetapi ada yang dalam kondisi darurat mempunyai akses yang bisa digunakan, yaitu: 



1. Mal Dinoyo City (MDC)

Mal ini sebenarnya memiliki lift yang menghubungkan tempat parkir sepeda motor dengan lantai 2, lantai 3 (foodcourt dan Royal ATK) dan lantai 4 (Movimax, Happy Puppy dan musholla), tapi sayang sekali lift-nya sering tidak berfungsi. Entah apa maksudnya dengan memasang lift tetapi jarang difungsikan. Ini sangat menyulitkan pengunjung yang tujuannya ke lantai 4, karena dari lantai 3 ke lantai 4 ada tangga berjalan alias eskalator tetapi tangga turunnya hanya tangga manual, padahal ketinggiannya lumayan. 




Lift Mal Dinoyo City

Lift saat aktif

Lift tidak aktif (ini lebih sering)


Jalur yang bisa digunakan ketika terjadi kondisi darurat adalah melalui tempat parkir. Aku sendiri kalo terlanjur naik ke lantai 4 tetapi ndilalah ketika mau turun lift-nya mati, terpaksa turun melalui tempat parkir walaupun bukan dalam kondisi darurat. Yah, darurat buatku setidaknya. 



Tempat parkir lantai 3 Mal Dinoyo City yang sering juga digunakan untuk event.
(sumber: beritajatim.com)


Aku pernah liat pengunjung mal pengguna kursi roda yang turun dari mobil di parkiran lantai 3, kebingungan untuk berpindah lantai karena yang berfungsi hanya eskalator, sedangkan lift-nya enggak. Nggak tau apa yang terjadi kemudian, apakah keluarganya meminta pihak mal untuk mengaktifkan lift, mengambil jalur melalui tempat parkir, atau pulang saja. Bisa jadi itu terakhir kalinya mereka berkunjung ke Mal Dinoyo karena dirasa menyulitkan penyandang disabilitas. 
Kalo sudah gitu, siapa yang rugi?

2. Malang Plaza


Ini mal jadul yang nggak punya lift dan eskalatornya cuma ke atas aja. Kalo turun harus lewat tangga manual. 

Tetapi sekarang tempat parkirnya udah dibangun sampai ke lantai atas, sehingga jika terjadi kondisi darurat, jalur parkir ini bisa digunakan untuk lewat. Lumayanlah, daripada nggak ada sama sekali.


Yang kondisinya berlawanan dengan kedua mal di atas adalah Sarinah. 

Pusat perbelanjaan ini memiliki lift yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 3 (Movimax). Dalam kondisi normal, fasilitas ini selalu bisa digunakan. Tetapi dalam kondisi darurat yang mengharuskan lift tidak diaktifkan, tidak ada jalur yang ramah bagi penyandang disabilitas karena jalur satu-satunya adalah tangga. 



Untuk mal yang lain, kurang lebih kondisinya seperti ini:

1. Dieng Plaza/Cyber Mall


Dieng hanya memiliki eskalator model tangga dan tangga manual di dalam gedungnya. Tidak ada eskalator datar apalagi lift, jadi mal ini hanya cocok untuk mereka yang tidak ada masalah fisik. 



Plaza Dieng (sumber:tripadvisor)


2. Plaza Araya

Fasilitas di mal ini sama dengan Dieng Plaza, yaitu eskalator tangga. Musholla ada di parkiran, di luar gedung. 



Plaza Araya (sumber: tripadvisor)


Ternyata lebih banyak mal yang nggak ramah disabilitas ya? Sedih.
Oya, satu catatan lagi: Di Malang aku belum pernah melihat mal yang menyediakan kursi roda. 

Aku baru nyadar ini ketika jalan di mal kota lain yang menyediakan kursi roda. 


Mengapa di Malang nggak ada yang terpikir fasilitas ini ya? Apa karena nggak ada yang minta? Atau pengunjung selalu membawa kursi rodanya sendiri? Gimana kalau ada kondisi darurat ya? 


Ini PR buat mal di Malang sepertinya. Gimana menurut kalian?


 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About