Pages

Rabu, 18 Februari 2015

Mencoba Terapi Bioresonansi untuk Alergi (1)

Alergi?

Siapa sih yang nggak pingin sembuh dari penyakit yang satu ini?

Orang bilang alergi itu jauh dari nyawa (paling-paling bersin-bersin, paling-paling gatal-gatal, that's what they said), jadi biasanya dengan ringan mereka bilang: jauhi aja alergennya!

Lalu, gimana dengan orang yang alerginya mengakibatkan saluran pernafasannya menyempit, which is artinya dia kesulitan bernafas tiap kali alerginya kambuh? Apa itu bisa dibilang jauh dari nyawa?

Open your eyes, friends. The fact is: banyak orang yang alerginya dalam taraf membahayakan jiwa. Walaupun seandainya enggak, alergi itu sangat mengganggu, bro and sis.

Ada orang yang garuk-garuk mulu atau bersin-bersin mulu karena alergi debu. Kalo yang begini yang terganggu bukan cuma si penderita, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

Buat yang pernah sekelas dengan aku, pasti kalian termasuk yang terganggu gara-gara aku bersin dan buang ingus mulu di kelas. Hayo, ngaku deh.

Ada penderita yang mukanya penuh jerawat. Sudah coba macam-macam pengobatan, nggak bisa sembuh juga. Ternyata karena alergi.

Biasanya sih akibatnya ini yang berusaha diobati oleh penderita. Yang gatel-gatel dan jerawatan jadi langganan dokter kulit. Yang asma langganan dokter paru. Pasti dikasih obat. Pasti reda sesaat. Tapi lalu kambuh lagi. Selalu begitu.

Semua dokter yang aku temui pun penjelasannya selalu sama: alergi nggak bisa sembuh. Jauhi saja alergennya. Yeah, right. Asal tau saja, seandainya aku menjauhi semua alergen, bisa-bisa tiap hari aku cuma makan nasi putih dan harus meringkuk di ruang steril karena aku alergi debu, semua jenis asap dan semua jenis bulu binatang. Can you imagine that?

Karena bertahun-tahun dicekoki informasi bahwa alergi nggak bisa sembuh, ketika ada kabar bahwa alergi bisa sembuh, langsung deh alisku berkerut. Benarkah alergi bisa sembuh? Rasanya mustahil.
Tapi setelah aku pikir-pikir, apa sih yang mustahil dalam ilmu pengetahuan? Banyak penemuan baru. Banyak obat ditemukan. Banyak penyakit bisa disembuhkan. Jadi, kalau sekarang alergi bisa sembuh, bukankah itu bagus?

Akhirnya aku mulai pencarian dengan gugling keyword: terapi bioresonansi untuk alergi. Dapat beberapa link. Diantaranya rubrik health di kompas dot com yang mempertanyakan dasar ilmiah tentang bioresonansi. Linknya ada di sini. Ada juga di sini. Bio-E, sebagai pemegang lisensi, menyajikan bantahannya di sini. Yang mau tau  hasil penelitiannya, ada di sini. Pendapat dokter diantaranya bisa dibaca di sini.

Orait, aku nggak terlalu peduli tentang teori. Yang penting praktek nih. Gimana testimoni yang sudah menjalani terapi ini? Apa mereka sembuh? Gugling pun dilanjut. Ternyata lumayan banyak juga mereka yang sembuh dengan terapi bioresonansi. Wah, ini benar-benar kabar gembira. Layak dicoba. Lagipula, ini ikhtiar. Masalah sembuh enggaknya, balik lagi ke ketentuan Allah.

Jadi, aku cari info di mana tempat terapi bioresonansi di Malang. (Lokasi lengkap di seluruh Indonesia bisa dicek di sini). Oh, ternyata RSI Aisyah sama RKZ Sawahan. Oke, di RS. Ini sudah credit tersendiri. Kalau nggak ilmiah, mana mungkin RS mau membuka terapi ini kan?

Akhirnya hari selasa tanggal 10 Februari 2015, dengan penasaran, aku berangkat ke RSI Aisyah setelah tanya jadwal dan biaya via telpon. (Menurut CS, biaya tes alergi 150 ribu untuk cek 40 jenis alergen dan 250 ribu untuk cek 60 jenis alergen. Biaya terapi 150 ribu.)



Waktu aku antri di depan poli, masih ada pasien di dalam. Oke, nunggu. 5 menit, 10 menit. Kok gak keluar-keluar ya? Aku antri sampe tidur-tidur. Segitu lamakah? Well, we'll see then.
Saat giliranku tiba, aku tanya dulu ke dokternya (dr Satra Wiyanto, MARS) tentang konsep pengobatan cara ini. Dokternya malah ngajak tebak-tebakan. Bagian terkecil dunia ini apa? Partikel. Lebih kecil lagi? Atom. Lebih kecil? Proton, neutron. Lebih kecil lagi? Aku menggeleng. "Gelombang", kata pak dokter. Oh.
Jadi, kenapa orang alergi sesuatu, itu karena gelombang dalam tubuh orang itu tidak sama dengan gelombang alergen.
Saat itu pak dokter sedang makan kripik pisang. Sepertinya sih coffee break dari RS. Di depan pak dokter ada alat bertangkai panjang, yang ketika diangkat, ujungnya langsung berputar membentuk lingkaran. "Lho ya, belum apa-apa udah kelihatan, Mbaknya alergi pisang ya?"
Aku mengangguk. Ya, aku memang alergi pisang.
Waktu ujungnya dipindahkan ke arah pak dokter, alat itu bergerak horizontal. "Nah, ini berarti saya nggak alergi pisang."
Trus terapi ini bagaimana kerjanya? Menurut beliau, dengan bantuan alat, gelombang alergen-alergen itu pelan-pelan dikenalkan ke tubuh penderita alergi, agar tidak lagi menolak.
Aku manggut-manggut. Konsep yang sederhana sebenarnya ya?
Setelah sedikit lagi obrolan tentang gelombang, it's time for me to test. Eng ing engggg, hasilnya: dari 60 jenis alergen, yang aku nggak alergi cuma 6 jenis aja.
Ya ampun.
Aku dulu pernah tes di lab, nggak sebanyak ini sih alergen yang di tes-kan. Tapi ya, hasil lab hampir semua sama dengan hasil tes alat 'muter-muter' itu. Nggak ilmiah? *angkat bahu*

Dan terapi pun dimulai. Dokter mengambil sedikit darahku untuk diletakkan di sebuah alat.
Karena alergiku menyebabkan asma, jadi itu yang diterapi pertama kali.
Aku rebahan di atas sebuah lempengan yang sudah ditata di atas tempat tidur. Lalu ada lempengan lain yang harus ditaruh di dada (harus kena kulit). Don't worry, pak dokter memberikan lempengan itu kepada pasien, jadi pasien yang memasukkan lempengan itu sendiri ke dalam baju. Alat dinyalakan, timer di-set, dan pak dokter meninggalkan ruangan dengan pintu poli dibuka lebar. Kirain itu alat bakal terasa nyetrum atau apa, tapi ternyata enggak. Saking nggak terasa apa-apanya, dan saking tenangnya ruangan, aku ketiduran. Kesempatan me time, hehehe. Setelah berlalu entah berapa lama, pak dokter kembali dan mematikan alat. Selanjutnya satu kaki diangkat diatas lutut, lalu ada alat yang ditekankan ke kaki. Lalu sekali lagi, alat dinyalakan, timer di-set dan pak dokter keluar. Alat itu berbunyi tit-tit-tit seperti alat pemantau detak jantung, teratur. Kali ini aku nggak ketiduran karena kakiku kesemutan. Setelah terapi kaki, selanjutnya tangan. Masing-masing tangan menggenggam bola logam, posisi masih berbaring, dan alat beraksi lagi. Lagi-lagi aku ketiduran. Sumpah, ini terapi terenak yang pernah kulakukan, hahaha.

Setelah kurang lebih sejam, terapi selesai. Dengan mata setengah mengantuk, aku bertanya harus berapa kali terapi lagi? Dokter bilang, tiap orang beda-beda. Semakin banyak alergen, semakin lama terapinya. Dokter bilang, prosentase kesembuhan sekitar 70-80 persen.
Yah, karena sudah hidup bersama alergi seumur hidupku, bagiku tak masalah harus terapi agak lama demi kesembuhan (walaupun seandainya cuma 70-80%). Setelah bertahun-tahun merasa tak ada harapan, ada sedikit cahaya itu serasa durian runtuh.
Oke then, aku nikmati aja terapi ini.

Terapi kedua aku lakukan hari ini, Rabu, 18 Februari 2015.
Kali ini ginjal yang diterapi lebih dulu dengan media ludah, bukan darah lagi. Lempengan diletakkan di punggung bawah, di bawah ginjal, ditambah lempengan yang diletakkan di perut.
Setelah itu, baru lempengan di punggung dan di dada seperti sebelumnya. Kali ini pun aku ketiduran.

Biaya terapi: 150 ribu.
Hasil: belum terlihat.
Sabarrrrrrr.

Next: Eh, Aku Nggak Sesak Nafas (Terapi Bioresonansi 2)

14 komentar:

  1. Skrg udah brp kali terapi?
    Hasilnya gmn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Eva. Aku berhenti tengah jalan nih. Tapi mau dilanjutkan at least sebulan sekali. Ada yang terapi bertahun-tahun walopun nggak teratur tapi sembuh. Ini aku juga gak teratur. Yang penting berusaha dulu..

      Hapus
  2. You are the same as me aku jg kayak gitu udh berobat ke mana mana yg dibilang dokter jgn stress jauhin penyebab alergennya itu udh itu aku coba terapi ini aku itu asma sm eksim ya lg parah skrg eh aku coba terapi ini mudah mudahan cocok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo EKR. Iya mudah-mudahan cocok yah...

      Hapus
  3. Saya bawa Anak saya ke RS Mayapada di deket fatmawati untuk check Alergy Imunology. Dan saya biayanya sangat mahal 10 Jutaan. Mohon percerahaan nya. anak saya mengalami rambut rontok. Saya masih bingung apa menyebabkannya atau cara pencegahaanya seperti apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klik aja link-link di postingan saya. Pake terapi bioresonansi nggak semahal itu kok. Dicoba aja daripada habis banyak kan biayanya?

      Hapus
  4. Hai mbak tika, saya juga ada asma dan beberapa bulan terakhir ini gatal2 yg tidak kunjung pulih,,kalo boleh minta kontaknya mbak? mau nanya lebih lanjut tentang terapinya :))

    BalasHapus
  5. Kak bioresonansi sama dengan biotensor tidak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh maaf baru baca komen di sini. Biotensor itu apa ya?

      Hapus
  6. Aduh mba nya alergi juga yaa,, kalau gtu sama kaya suami aku mbaa,, sering banget bersin cuma gara2 guling ga diganti 1 minggu, atau rumah kotor dikit langsung bersinnya lama.. Semoga aja lekas sembuh ya mba tikaa..dan sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn, makasih Mbak Vika, semoga sehat selalu juga

      Hapus
  7. Kalau tgl merah trapinya buka apa gk ya kak

    BalasHapus

Haii, salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung. Silakan komentar di sini yaa.

 

Blogger FLP

FLP

Blogroll

Blogger templates

About